Bersama Lawan Corona

Bersama Lawan Corona

Bersama Lawan Corona; Pemerintah mengungkapkan ada beberapa daerah yang tidak memiliki penambahan kasus positif Corona (COVID-19). Dari data yang diumumkan pemerintah hari ini, tercatat ada 18 daerah yang tak memiliki catatan penambahan kasus. Data itu diungkapkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Corona, dr Achmad Yurianto, Senin (4/5/2020). Dari 34 provinsi, ada 18 daerah yang tercatat nol kasus baru dan 15 daerah memiliki kasus tambahan baru. Berikut ini data daerah yang tidak memiliki penambahan kasus positif Corona per 4 Mei:

1. Aceh: 0 kasus positif

2. Bangka Belitung: 0 kasus positif

3. Bengkulu: 0 kasus positif

4. DI Yogyakarta: 0 kasus positif

5. Jambi: 0 kasus positif

6. Kepulauan Riau: 0 kasus positif

7. Nusa Tenggara Barat: 0 kasus positif

8. Sumatera Selatan: 0 kasus positif

9. Sulawesi Utara: 0 kasus positif

10. Sulawesi Tenggara: 0 kasus positif

11. Sulawesi Tengah: 0 kasus positif

12. Maluku Utara: 0 kasus positif

13. Maluku: 0 kasus positif

14. Papua Barat: 0 kasus positif

15. Papua: 0 kasus positif

16. Sulawesi Barat: 0 kasus positif

17. Nusa Tenggara Timur: 0 kasus positif

18. Gorontalo: 0 kasus positif

Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo mengungkapkan saat ini kenaikan kasus positif Corona berada pada tren mendatar. Pemerintah masih terus melakukan pengkajian. “Situasi yang sudah bagus, bahkan ada di beberapa provinsi yang kasusnya 0 jangan sampai karena kehadiran pemudik malah menimbulkan persoalan baru, sementara di daerah banyak keterbatasan. Dokter, perawat, rumah sakit terbatas,” kata Doni seusai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo.

Bersama Lawan Corona

Pemerintah: Ada Daerah dengan 0 Kasus Baru Corona, Jangan Tambah Gegara Pemudik

Pemerintah terus mengimbau masyarakat agar tidak nekat mudik ke kampung halaman menyusul pandemi virus Corona (COVID-19). Pemudik yang nekat ini berpotensi menyebarkan virus Corona. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo mengungkapkan saat ini kenaikan kasus positif Corona berada pada tren mendatar. Pemerintah masih terus melakukan pengkajian. “Kasus yang positif kita lihat ada tren yang mendatar dan menurun. Sementara yang kita saksikan jumlah spesimen dan ODP, PDP yang diperiksa mengalami peningkatan,” ungkap Doni seusai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo. “Kita masih tunggu beberapa hari ke depan setelah laboratorium berfungsi optimal, mana yang mengalami penurunan signifikan, mana yang mendatar, mana yang mungkin mengalami peningkatan,” sambungnya.

Doni pun menyoroti masih banyaknya masyarakat yang nekat mudik meski sudah ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Ia mengajak semua pihak mengkampanyekan ‘tidak mudik’. “Masih ada yang lolos mudik, sekali lagi kita semua mengajak masyarakat untuk betul-betul patuh terhadap anjuran dan larangan pemerintah. Saat ini harus bersabar, harus betul-betul bisa menghindari keinginan untuk pulang,” ucap Doni. Menurut Doni, masyarakat bisa melindungi banyak orang dengan menjaga diri agar tidak terpapar. Ini artinya juga melindungi keluarga dan orang-orang terdekat dari ancaman Corona. “Kalau kita bisa melindungi diri sendiri, kita bisa melindungi lingkungan kita, maka seyogianya kita bisa menjadi pahlawan untuk diri sendiri dan pahlawan untuk keluarga kita,” tuturnya.

Bersama Lawan Corona

Doni juga mengungkap sudah adanya kemajuan di beberapa daerah terkait penyebaran virus Corona. Ia mengimbau masyarakat agar patuh dengan tidak mudik sehingga kondisi yang sudah bagus tidak tercemar lagi oleh paparan virus. “Situasi yang sudah bagus, bahkan ada di beberapa provinsi yang kasusnya 0 jangan sampai karena kehadiran pemudik malah menimbulkan persoalan baru, sementara di daerah banyak keterbatasan. Dokter, perawat, rumah sakit terbatas,” sebut Doni. “Untuk diketahui, jumlah dokter paru kita 1.973, artinya 1 dokter paru harus melayani 1,2 juta warga Indonesia sehingga ketika kita membiarkan diri kita dan lingkungan kita terpapar, artinya sangat terbatas,” tambahnya. Doni mengingatkan kurangnya tenaga medis di daerah. Untuk itu, ia mengajak masyarakat agar sadar diri dengan menjaga supaya tidak membuat tenaga medis kewalahan. “Di daerah itu tidak ada dokter paru, kita harus menjaga agar jangan sampai para dokter ini kelelahan, tidak cukup waktu istirahat sehingga mereka menjadi mudah menurun imunitasnya kemudian berpotensi terpapar. Kita harus berupaya jangan merepotkan para dokter,” tutup Doni.

Gugus Tugas: Laju Kasus Baru Corona Turun 11%, Jangan Lengah!

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menyebut laju kasus baru virus Corona di Indonesia mengalami penurunan sebesar 11%. Namun hal tersebut jangan sampai membuat lengah. “Kami jelaskan bahwa laju kasus baru mengalami penurunan sampai dengan 11%. Tetapi hal ini bukan berarti kita menjadi lengah,” kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo dalam konferensi video seusai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi. Doni menekankan beberapa klaster dan kemungkinan penyebabnya potensi baru penularan virus Corona. Mereka yang diantisipasi adalah kepulangan buruh migran Indonesia (BMI) hingga warga yang bandel mudik dan lolos dari pemeriksaan.

“Karena kehadiran sejumlah BMI yang berpotensi juga menjadi bagian daripada penularan. Termasuk juga jemaah tablig, kemudian klaster Gowa, beberapa tempat industri yang menjadi episentrum, kemudian pemudik yang lolos dari pemeriksaan aparat. Hal ini berpotensi meningkatnya kasus kembali,” ucap Doni. Doni mengajak kerja sama antara komponen untuk betul-betul mengantisipasi penyebaran baru virus Corona. Selain pusat, gugus tugas di daerah juga sudah melakukan penanganan. “Kerja sama seluruh komponen, baik di pusat maupun daerah betul-betul terintegrasi dengan baik. Gugus tugas provinsi telah susun organisasi dan setiap gugus tugas betul-betul melakukan pencegahan, deteksi, dan penanganan kepada masyarakat,” ujar Doni.

Bersama Lawan Corona

‘Kurva Melandai’ yang Tak Boleh Diartikan Bisa Santai

Istilah ‘kurva melandai’ pada perkembangan wabah Corona (COVID-19) di Indonesia sempat menerbitkan rasa lega. Namun, istilah ini ternyata tak boleh diartikan bisa santai saja. Butuh cara yang tepat untuk membaca kurva kasus Corona ini. Sebagaimana diketahui, pemerintah mulanya lega dengan kondisi kurva melandai ini. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengutarakan rasa syukurnya bahwa kenaikan ekstrem kasus COVID-19 tak terjadi di Indonesia. Dia melihat kurva kasus baru Corona cenderung mengalami tren penurunan dari hari ke hari. “Keadaan peta COVID-19 per 7 Mei ada kecenderungan angka kasus yang terjadi di Indonesia mengalami penurunan walaupun tidak terlalu drastis,” kata Muhadjir dalam konferensi video lewat saluran YouTube Sekretariat Presiden.

Dia mengatakan bahwa angka kasus Corona per hari di Indonesia relatif rendah. Kurva tertinggi kasus Corona tiap harinya tak pernah melewati angka 500 kasus. Sementara angka pasien yang sembuh dari Corona semakin meningkat.Namun, tercatat pada tanggal 9 Mei, ternyata kurva kasus baru melonjak menembus batas perkiraan tertinggi Muhadjir, yakni 500 kasus baru. Sebagaimana terlihat di situs Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, kurva menyentuh angka 533 kasus baru. Sehari setelahnya, kurva turun menjadi 387 kasus baru. Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto (Yuri) melihat, kurva kasus Corona ini fluktuatif alias naik-turun. “Kita melihat dalam kecenderungan data yang kita dapatkan pada satu minggu terakhir nampak adanya fluktuasi. Di beberapa daerah, ada kecenderungan yang konsisten meningkat semakin sedikit, namun di beberapa daerah ada juga yang tidak konsisten,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto (Yuri), dalam siaran langsung via kanal YouTube BNPB Indonesia, Minggu lalu.

Fluktuasi ini membuat kesimpulan susah untuk ditarik. Untuk saat ini, masih sulit untuk mengatakan tren kasus Corona di Indonesia mengalami penurunan atau bakal mengalami lonjakan tajam. Penyebaran virus Corona semakin sulit diprediksi. “Di beberapa daerah juga belum terbentuk pola grafik konsisten yang susah kita tebak dari hari ke harinya,” kata Yuri. “Beberapa hari kita melihat penambahan jumlah kasus tidak banyak, tapi di beberapa hari terakhir terjadi penambahan yang cukup signifikan. Menanggapi pemakaian istilah ‘kurva melandai’ ini, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencoba menjelaskannya secara utuh. Kurva tak boleh dilihat hanya dari ukuran hari per hari saja. “Jadi sebenarnya yang dimaksud dengan kurva melandai ini adalah tren yang harusnya kita lihatnya tidak boleh hanya harian, tetapi mingguan,” kata Ketua Tim Pakar Gugus Tugas, Wiku Adisasmito, dalam keterangannya kepada wartawan lewat akun YouTube Sekretariat Kabinet RI, Senin kemarin.

Bersama Lawan Corona

Profesor dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) ini mengatakan tren perkembangan penyebaran virus Corona bisa dilihat dari kurva. Kurva itu sendiri tergambar dari data-data mengenai laju pertambahan kasus baru COVID-19 per hari atau per pekan. Namun untuk melihat apakah COVID-19 sudah melandai atau belum, dinilai dari hari per hari saja belum cukup. “Apabila tren mingguannya makin lama makin menurun, tidak harus banyak, tetapi menurun terus, itulah yang disebut melandai,” jelas Wiku Wiku membuka situs data dari Gugus Tugas, tampilannya serupa dengan situs covid19.go.id, namun ternyata agak berbeda. Ada menu yang tidak ditemukan di situs covid19.go.id. Situs yang dibuka Wiku beralamat di covid19.granddatum.com. Perlu akun khusus untuk mengakses data dari situs itu. Dia menjelaskan, sempat terjadi peningkatan kurva di bulan April.

“Dilihat dari kasus mingguan dari 10 provinsi terbanyak di Indonesia. Memang sempat di bulan April meningkat, ada titik tertentu di sebelah tengah di atasnya April di sini terlihat total kasusnya 1.900 (1.902 pada 13 April) dan kontribusinya pada tiap provinsi berapa ada di sini. Memang DKI yang kontribusi paling besar,” kata dia sambil menampilkan kurva. Kurvanya tidak melandai, konteks laju penambahannya yang menurun. Otomatis jumlah kumulatifnya akan menjadi stagnan dan landai. Bila kurva penambahan kasusnya (kasus baru harian, mingguan, atau bulanan) menurun, jumlah total kasus positif COVID-19 juga bakal stagnan karena tidak ada tambahan angka baru lagi.

Wiku lantas membuka kurva khusus untuk DKI Jakarta sebagai contoh. Di Ibu Kota, kurva terpantau naik pada 13 April dan turun pada 4 Mei. Naik atau turunnya kurva juga dipengaruhi faktor jumlah tes. “Bisa saja naiknya karena testing-nya yang makin banyak. Maka dari itu melihat tren ini harus tidak boleh hanya harian, tetapi beberapa minggu,” ujar dia. Dia lantas membuka contoh dari daerah lain, yakni Jawa Barat, kurvanya menurun dengan bagus, namun naik lagi pada pekan lalu. Pada intinya, membaca landainya laju kurva Corona bukan per hari, namun per pekan. Membaca kurva Corona untuk menarik kesimpulan, apakah melandai atau tidak, juga perlu dicermati sampai tingkat daerah, bukan hanya tingkat nasional. “Inilah yang harusnya menjadi alat navigasi. Satu data ini penting sekali untuk menunjukkan trennya. Nanti apabila terjadi beberapa aktivitas ekonomi dibuka, dasarnya harusnya melihat dari per daerah, bukan hanya nasional,” tutur Wiku.

Tim Support Priority Indonesia Selaku Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Medis juga turut membantu para garda depan tenaga kesehatan dalam penanganan Covid19 dengan menyediakan Jasa Pengadaan Sepatu Boot Medis. Info lebih lanjut bisa menghubungi CS kami di 0822 8182 7374

(Source: news.detik.com)

Leave a Reply