Imunitas Virus Corona

Imunitas Virus Corona

Imunitas Virus Corona; berapa lama imunitas atau kekebalan terhadap virus corona bisa bertahan? Bertahun-tahun, mungkin bahkan puluhan tahun, menurut sebuah penelitian baru. Data baru menunjukkan, delapan bulan setelah infeksi, kebanyakan orang yang telah sembuh masih memiliki sel imun cukup untuk membentengi diri dari virus dan mencegah penyakit. Laju penurunan yang lambat dalam jangka pendek menunjukkan sel-sel ini dapat bertahan di dalam tubuh untuk waktu yang sangat lama. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

Penelitian ini, dipublikasikan secara online, belum dikaji rekan sejawat ataupun dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Tapi ini adalah penelitian memori kekebalan yang paling komprehensif dan lama hingga saat ini. “Jumlah memori itu kemungkinan akan mencegah sebagian besar orang yang dirawat di rumah sakit, sakit parah, selama bertahun-tahun,” jelas Shane Crotty, ahli virologi di La Jolla Institute of Immunology yang ikut memimpin penelitian baru tersebut, dikutip dari New York Times, Senin (30/11).

Penemuan ini mungkin akan melegakan para ahli yang khawatir kekebalan terhadap virus kemungkinan tak bertahan lama, dan vaksinasi perlu dilakukan berulang kali untuk mengendalikan pandemi. Penelitian ini sesuai dengan temuan baru-baru ini: orang yang selamat dari SARS, yang disebabkan virus corona lain, masih membawa sel-sel kekebalan penting tertentu 17 tahun setelah sembuh. Penemuan ini konsisten dengan bukti menggembirakan yang muncul dari laboratorium lain. Para peneliti di Universitas Washington, yang dipimpin ahli imunologi Marion Pepper, sebelumnya telah menunjukkan sel-sel “memori” tertentu yang diproduksi setelah terinfeksi virus corona bertahan setidaknya selama tiga bulan di dalam tubuh. Sebuah penelitian diterbitkan pekan lalu juga menemukan orang yang sembuh dari Covid-19 memiliki sel kekebalan pembunuh yang kuat dan protektif bahkan ketika antibodi tidak dapat dideteksi.

Berita Gembira

Ahli imunologi Universitas Arizona, Deepta Bhattacharya mengatakan, sejumlah penelitian ini “pada umumnya memiliki gambaran yang sama yaitu setelah Anda melewati beberapa minggu pertama yang kritis, respons selanjutnya terlihat cukup konvensional”. Ahli imunologi Universitas Yale, Akiko Iwasaki, mengatakan tak heran tubuh memberikan respons yang tahan lama karena “itulah yang seharusnya terjadi.”

“Ini adalah berita yang menggembirakan,” ujarnya menanggapi temuan baru ini.

Sejumlah kecil orang yang terinfeksi dalam penelitian baru ini tak memiliki kekebalan yang bertahan lama setelah sembuh, kemungkinan karena perbedaan jumlah virus corona yang menginfeksi mereka. Tapi menurut ahli imunologi Universitas Toronto, Jennifer Gommerman, vaksin bisa mengatasi hal ini. Dalam beberapa bulan terakhir, laporan terkait menyusutnya tingkat antibodi memicu kekhawatiran bahwa kekebalan terhadap virus corona bisa memudar dalam beberapa bulan, membuat orang rentan terinfeksi kembali.

Tapi banyak ahli imunologi menekankan hal alamiah jika tingkat antibodi menurun. Selain itu, antibodi hanyalah salah satu bagian dari sistem kekebalan. Walaupun antibodi dalam darah diperlukan untuk memblokir virus dan mencegah infeksi ulang – suatu kondisi yang dikenal sebagai “sterlizing immunity” – sel kekebalan yang lebih sering “mengingat” virus bertanggung jawab untuk mencegah penyakit serius. “Sterlizing immunity tidak terlalu sering terjadi – itu bukan norma,” jelas Alessandro Sette, ahli imunologi di La Jolla Institute of Immunology dan salah satu pemimpin penelitian.

Lebih sering orang terinfeksi untuk kedua kalinya dengan patogen tertentu, dan sistem kekebalan mengenali penyerang dan dengan cepat mencegah infeksi. Virus corona khususnya lambat dalam menimbulkan kerusakan, memberi sistem kekebalan banyak waktu untuk mulai bekerja. “Ini dapat dihentikan cukup cepat sehingga Anda tidak hanya tidak mengalami gejala apa pun tetapi Anda tidak menular,” jelas Sette.

185 Peserta Penelitian

Dr. Sette dan koleganya merekrut 185 laki-laki dan perempuan, berusia 19 sampai 81 tahun, yang telah sembuh dari Covid-19. Mayoritas mengalami gejala ringan yang tidak memerlukan rawat inap; sebagian besar hanya menyediakan satu sampel darah, tetapi 38 menyediakan banyak sampel selama beberapa bulan. Tim melacak empat komponen sistem kekebalan: antibodi, sel B yang membuat lebih banyak antibodi sesuai kebutuhan; dan dua jenis sel T yang membunuh sel lain yang terinfeksi. Idenya adalah untuk membangun gambaran dari respon imun dari waktu ke waktu dengan melihat konstituennya.

“Jika Anda hanya melihat satu saja, Anda benar-benar bisa kehilangan gambaran lengkapnya,” jelas Crotty.

Dia dan rekannya menemukan antibodi tahan lama, dengan penurunan sedang pada enam sampai delapan bulan setelah infeksi, meskipun ada perbedaan 200 kali lipat dalam tingkatannya di antara para peserta. Sel T hanya menunjukkan sedikit pembusukan lambat dalam tubuh, sementara sel B bertambah jumlahnya – penemuan tak terduga yang tidak dapat dijelaskan oleh para peneliti. Para ahli mengatakan, penelitian tersebut adalah yang pertama memetakan tanggapan kekebalan terhadap virus dengan sangat rinci.

Jarang Terjadi

Kekhawatiran tentang berapa lama kekebalan terhadap virus corona bertahan dipicu terutama oleh penelitian terhadap virus yang menyebabkan flu biasa. Satu penelitian yang sering dikutip, yang dipimpin oleh Jeffrey Shaman dari Universitas Columbia, menunjukkan kekebalan dapat memudar dengan cepat dan infeksi ulang dapat terjadi dalam waktu satu tahun.

“Yang perlu kita perhatikan adalah apakah infeksi ulang akan menjadi perhatian atau tidak,” ujar Dr Shaman. “Jadi, melihat bukti bahwa kami memiliki respons yang kuat dan gigih, setidaknya untuk skala waktu ini, sangat menggembirakan,” lanjutnya. Sejauh ini, kata Shaman, infeksi ulang virus corona tampaknya jarang terjadi.

Persisnya berapa lama kekebalan bertahan sulit untuk diprediksi, karena para ilmuwan belum mengetahui tingkat berbagai sel kekebalan yang diperlukan untuk melindungi dari virus. Tetapi penelitian sejauh ini menunjukkan, bahkan sejumlah kecil antibodi atau sel T dan B mungkin cukup untuk melindungi mereka yang telah sembuh. Sejauh ini, para peserta dalam penelitian ini memiliki sel-sel kekebalan dalam jumlah yang besar.

“Tidak ada tanda-tanda bahwa sel-sel ingatan tiba-tiba akan anjlok, sesuatu yang tidak biasa,” kata Dr Iwasaki. “Biasanya, terjadi kerusakan lambat selama bertahun-tahun.” Dr. Bhattacharya mengatakan, ada beberapa bukti yang muncul bahwa infeksi ulang dengan virus corona flu biasa adalah hasil dari variasi genetik virus dan kekhawatiran itu mungkin tidak relevan dengan virus corona baru. “Saya tidak berpikir itu adalah prediksi yang tidak masuk akal untuk memikirkan komponen memori kekebalan ini akan bertahan selama bertahun-tahun,” pungkasnya.

(Source: merdeka.com)

This Post Has 2 Comments

  1. bahis

    At this moment I am ready to do my breakfast, once having my breakfast coming again to read other news. Lucinda Malachi Danielle

Leave a Reply