Jenis Baju Hazmat

Jenis Baju Hazmat

Jenis baju Hazmat yang sering terlihat digunakan oleh petugas kesehatan saat melakukan perawatan maupun saat melakukan evakuasi terhadap pasian yang dicurigai terpapar virus Corona Covid-19 mungkin mulai terlihat familiar. Hazmat merupakan singkatan dari hazardous material suit. Jenis baju Hazmat berfungsi untuk melindungi seluruh bagian tubuh dari pemakai agar tidak terpapar berbagai bahan berbahaya. Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat mendefinisikan Hazmat sebagai “pakaian yang digunakan dengan tujuan melindungi orang dari bahan atau zat berbahaya, termasuk bahan kimia, organisme biologi, atau bahan radioaktif.”

Jenis baju Hazmat sendiri merupakan salah satu alat pelindung diri, yang biasanya digunakan oleh pemadam kebakaran, petugas medis, peneliti, orang-orang yang bertanggung jawab terhadap zat berbahaya, dan seluruh orang yang memiliki tugas di area kerja dengan dampak kontaminasi terhadap bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan. Baju Hazmat terbagi menjadi beberapa tingkatan yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan. Di Amerika Serikat jenis baju Hazmat terbagi dari tingakat A, B, C, D, sedangkan di Eropa sendiri terbagi menjadi tingakatan 1-6. Agar semakin menjelaskan mengenai jenis baju Hazmat secara lebih detail, berikut Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Big Size) rangkumkan dari berbagai sumber jenis baju hazmat serta perawatannya.

Jenis Baju Hazmat di Eropa Diklasifikasikan Menjadi 6 Tingkat

Sesuai dengan sertifikasi mengenai baju Hazmat yang diakui secara internasional yaitu NFPA 1991, tetapi di Eropa diwajibkan untuk memiliki sertifikat EN 943, berikut beberapa jenis Hazmat yang berada di Eropa.

Tipe 1

Digunakan untuk melindungi diri dari cairan dan bahan kimia dalam bentuk gas. Pada tipe 1 terdapat fitur kaca pelindung dari gas, karena jenis baju Hazmat tipe ini perlu perlindungan tingkat tinggi.

Tipe 2

Digunakan untuk melindungi diri dari cairan dan bahan kimia dalam bentuk gas. Pada tipe 2 tidak terdapat fitur kaca pelindung dari gas.

Tipe 3

Digunakan untuk melindungi diri dari cairan kimia dalam waktu yang terbatas. Terdapat fitur anti air.

Tipe 4

Digunakan untuk melindungi diri dari cairan kimia dalam waktu yang terbatas. Terdapat fitur anti terhadap cairan dengan partikel yang disemprotkan.

Tipe 5

Digunakan untuk melindungi diri dari cairan kimia dalam waktu yang terbatas. Hanya melindungi sebagian dari tubuh saja.

Tipe 6

Digunakan untuk melindungi diri dari cairan kimia.

Di Amerika Serikat, Jenis Baju Hazmat dibagi Menjadi 4 Tingkat, yaitu A, B, C, D

Berdasar sertifikasi NFPA 1991 yang menjadi standar Hazmat di Amerika Serikat dan Kanada, maka jenis baju Hazmat terbagi menjadi beberapa tingkatan berikut.

Tingkat A

Sangat rapat dan tidak dapat dimasuki uap, sekalipun. Dapat membungkus seluruh badan dengan rapat. Memiliki tingkat perlindungan tinggi terhadap paparan zat kimia secara langsung maupun yang melalui udara. Saat menggunakan jenis baju Hazmat tingkat A, biasanya pengguna akan diberi alat bantu pernapasan yang biasanya telah tersedia di alam baju.

Jika ada insiden seperti tumpahan bahan kimia yang sangat berbahaya, biasanya jenis baju Hazmat ini akan digunakan.

Tingkat B

Tidak terlindungi dari masuk atau keluarnya uap. Jenis baju Hazmat ini tidak memiliki perlindungan setara dengan tingkat A, dan baju ini memberikan perlindungan pengguna terhadap percikan bahan kimia berbahaya tetapi tidak memberikan perlindungan pengguna dari uap atau gas.

Tingkat C

Jenis baju Hazmat ini memiliki tingkat perlindungan yang lebih rendah daripada jenis baju Hazmat tingkat B dan biasanya dipakai hanya dengan respirator atau masker gas. Sebagian besar jenis baju Hazmat yang digunakan para pemadam kebakaran adalah tingkat C. Jenis baju Hazmat ini sebagai perlindungan terhadap bahan kimia berbahaya dan zat yang dapat dipaparkan melalui udara.

Tingkat D

Dengan tingkat perlindungan paling rendah, jenis baju Hazmat ini tidak memiliki bentuk seperti jenis baju Hazmat lainnya. Karena pada tingkat D, hanya membutuhkan pakaian kerja dan kacamata khusus agar terindar dari percikanJenis baju Hazmat ini biasanya dikenakan saat tidak ada bahaya bagi pekerja dari paparan bahan kimia.

Yang Perlu Diperhatikan dalam Pemilihan Jenis Baju Hazmat

Jenis baju Hazmat haruslah sesuai dengan tingkat bahaya yang akan dihadapi dan harus dipastikan untuk melakukan pertimbangan tentang risiko-risikonya. Yang tidak kalah penting adalah memastikan jika orang yang akan menggunakan baju Hazmat tersebut telah mengerti bagaimana menggunakan alat pelindung diri mereka dengan benar dan telah memiliki informasi lengkap, instruksi dan pelatihan untuk menggunakan baju Hazmat.

Cara Menggunakan Baju Hazmat

Ada beberapa tahapan penting pada saat akan menggunakan baju Hazmat, yaitu:

1. Dalam penggunaan baju Hazmat yang pertama adalah dengan melapisi bagian dalam baju Hazmat dengan baju biasa seperti yang dikenakan sehari-hari.

2. Lalu setelah baju Hazmat terpasang, gunakan juga pelindung tambahan yang digunakan pada area tangan, lalu gunakan pelapis untuk melindungi sepatu, serta masker untuk melindungi wajah. Masker yang digunakan biasanya masker dengan jenis N95 sedang penanganan virus seperti virus Corona Covid-19.

3. Setelah semua perlengkapan terpasang, maka pada bagian pergelangan tangan dan kaki, lalu pada bagian leher dan wajah serta pinggang harus dipastikan tertutup atau terkunci dengan benar dan rapat.

Yang Harus Diperhatikan saat Melepas Baju Hazmat

Fungsi dari jenis baju Hazmat sebagai pelindung diri dari berbagai paparan bahan kimia maupun segala virus berbahaya. Sehingga penting diperhatikan mengenai bagaimana cara melepas baju Hazmat, terutama jika baju Hazmat yang digunakan telah terpapar zat kimia atau virus berbahaya.

Sebelum keluar dari area isolasi atau daerah memiliki potensi menginfeksi, baju Hazmat wajib disterilisasi lebih dahulu dengan menyemprotkan cairan disinfektan maupun antiseptik.

Dan pada saat proses melepas baju Hazmat harus dilakukan dengan hati-hati, dengan cara menggulung baju Hazmat dari bagian atas ke bawah.

Biasanya pakaian Hazmat akan dicuci dengan treatment dan cairan khusus untuk mensterilkan baju dari berbagai jenis penyakit atau zat berbahaya. Akan tetapi dalam kasus seperti virus Corona Covid-19, baju Hazmat biasanya langsung di musnahkan untuk menghindari kontaminasi virus terhadap lingkungan sekitar.

Fungsi dan Penggunaan Hazmat Suit yang telah diatur Undang-undang

Tujuan penggunaan APD untuk menghindari sekaligus mengurangi risiko tertular penyakit yang infeksius seperti Ebola, MERS, SARS, Flu Burung dan lain sebagainya.

Penggunaan APD bagi para medis ketika bertugas menangani sebuah kasus kesehatan juga diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) pasal 6, ayat 1 nomor 27 tahun 2017.

Isi peraturan tersebut berbunyi “komite atau tim PPI dibentuk untuk menyelenggarakan tata kelola PPI yang baik agar mutu pelayanan medis serta keselamatan pasien dan pekerja di fasilitas pelayanan kesehatan terjamin dan terlindungi.” APD dirancang sedemikian rupa yang terdiri dari penutup kepala (hoodie), pelindung wajah, pelindung mata (goggles), masker (respirator), sarung tangan, baju pelindung (gaun), respirator dan sapatu boot. Masing-masing perlengkapan tersebut mempunyai fungsi yang sangat krusial untuk melindungi dan mengurangi risiko tertular penyakit infeksius.

1. Penutup Kepala

Penggunaan pelindung atau penutup kepala (hoodie) dimaksudkan agar bagian kepala seperti rambut tidak terkontaminasi dengan patogen atau mirkoorganisme yang sedang mewabah. Selain itu, penggunaan penutup kepala ketika bertugas juga dimaksudkan agar bagian kepala petugas tidak terkena semprotan atau percikan zat (cairan) dari pasien yang sedang ditangani. Sehingga meski berada di tempat yang sangat berbahaya terhadap paparan virus atau pun zat kimia, petugas tetap aman terlindungi khususnya pada bagian kepala.

2. Pelindung Wajah

Penggunaan pelindung wajah terdiri dari kaca mata (goggles) dan masker (respirator) untuk melindungi bagian hidung, mulut dan mata petugas dari paparan virus atau zat berbahaya dari luar. Petugas kesehatan wajib mengenakan goggles dan masker ketika berada di zona berbahaya khususnya ketika sedang menangani seorang pasien yang positif terkena wabah penyakit.

3. Sarung Tangan

Sarung tangan yang digunakan oleh petugas kesehatan ketika bertugas membasmi wabah penyakit atau sedang merawat seorang pasien hanya bersifat sekali pakai. Penggunaan sarung tangan dimaksudkan untuk melindungi petugas dari paparan zat berbahaya atau virus yang sangat infeksius. Penggunaan sarung tangan akan membuat petugas kesehatan dengan leluasa memegang sesuatu ketika bertugas. Selain itu, penggunaan sarung tangan juga akan mengurangi risiko penularan penyakit dari pasien atau pun dari petugas melalui sentuhan terhadap darah, kulit dan bagian tubuh lainnya.

4. Baju Pelindung

Baju pelindung yang digunakan oleh petugas kesehatan sangat tertutup sehingga menekan risiko tertular penyakit yang sedang mewabah. Selain itu, penggunaan baju yang mirip astronot ini juga berfungsi melindungi tubuh dari percikan darah atau cairan berbahaya. Umumnya, Alat Pelindung Diri (Hazmat Suit) yang dikenakan oleh petugas kesehatan ketika menangani sebuah kasus wabah penyakit infeksius didesain menyatu dari bagian kaki hingga bagian kepala. Pakaian yang sudah menyatu jadi satu tersebut dimaksudkan agar penggunaan praktis baik ketika dipakai atau pun dilepas.

5. Sepatu Boot

Penggunaan sepatu boot sangat membantu petugas kesehatan ketika melakukan mobilitas di tempat yang berbahaya khususnya ketika berada di luar ruangan. Selain melindungi kaki dari paparan zat berbahaya seperti darah, cairan atau udara yang banyak mengandung patogen, penggunaan sepatu boot juga dapat melindungi kaki dari benda tajam. Apa bila tidak ada sepatu boot, petugas kesehatan wajib menggunakan sepatu biasa namun dengan tambahan sarung sepatu ketika bertugas agar mengurangi risiko terpapar virus atau cairan berbahaya.

Melepas Pakaian Hazmat

Dalam melepas pakaian hazmat harus sesuai dengan prosedur standar operasional untuk menghindari terkontaminasi dari zat, cairan atau virus yang menempel pada pakaian. Setiap kali melepaskan bagian dari Alat Pelindung Diri yang dikenakan harus mencuci tangan menggunakan cairan antiseptik bakteri atau mikroorganisme tidak berpindah ke tangan. Setelah semua terlepas, pakaian Hazmat akan dicuci dengan cara khusus untuk mensterilkan baju dari berbagai jenis penyakit atau zat berbahaya.

APD Sekali Pakai

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih menegaskan penggunaan APD hanya bisa digunakan sekali. Ini bertujuan menghindari bahaya risiko penularan kuman yang menempel.”Iya APD itu sekali pakai, karena itu infeksius. Kalau dilakukan pemakaian kembali itu sangat berpotensi terkena infeksi,” ujar Daeng. Beliau mengatakan tenaga kesehatan harus memakai APD selama jam jaga yang telah ditentukan masing-masing rumah sakit sebelum dihancurkan. “Itu dipakai selama shift jaga, kalau shift jaganya 8 jam dipakai selama 8 jam. Kalau misal shif jaganya 10 jam ya dipake 10 jam tergantung shifit jaganya. Kemudian langsung dilepas, dibuang, dan dihancurkan,” ujarnya. APD yang telah selesai dipakai akan menjadi sampah medis yang akan dihancurkan dengan alat bernama incinerator. “Kan ada pemungut sampah medis biasanya lalu dihancurkan melalu incinerator yang ada pada rumah sakit,” ujar beliau.

Semoga dengan artikel diatas dapat memberi manfaat serta dapat menambah wawasan para relasi semuanya, selalu jaga kesehatan ya

(Source: hot.liputan6.com, jeda.id)

Leave a Reply