Tekan Kematian Covid19

Tekan Kematian Covid19

Tekan Kematian Covid19 di Indonesia; Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah mengatakan, tiga cara menekan angka kematian yang disebabkan virus Corona di Indonesia. Pertama, meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap pasien Covid-19. “PR pemerintah adalah meningkatkan pelayanan kesehatan, memastikan SDM cukup, tempat tidur, ruang isolasi cukup,” katanya, Kamis (13/8). Kedua, pasien Covid-19 menjaga daya tahan tubuh. Ketiga, jika masyarakat merasakan muncul gejala Covid-19, maka segera datangi fasilitas kesehatan terdekat. “Segera pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan sebelum gejala semakin berat,” jelasnya. Dewi melanjutkan, salah satu penyebab tingginya angka kematian Covid-19 di Indonesia adalah pasien mendatangi fasilitas kesehatan dalam kondisi sakit berat. Akibatnya, banyak pasien virus SARS-CoV-2 itu yang sulit untuk diselamatkan. Kasus kematian yang disebabkan Covid-19 di Indonesia per 12 Agustus 2020 sebanyak 5.903. Ada penambahan 138 kasus kematian dari data 10 Agustus 2020 yang mencapai 5.765 orang. Berikut telah dirangkum Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety) di bawah ini;

Kasus Kematian Covid-19 RI di Atas Rata-Rata Dunia

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan kasus kematian Covid-19 nasional per 10 Agustus 2020 berada di angka 4,5 persen. Menurun tipis dari data 3 Agustus lalu yang mencapai 4,68 persen. Namun, posisi Indonesia masih berada di atas rata-rata kasus kematian Covid-19 dunia. “Kematian di Indonesia lebih tinggi daripada dunia yaitu 4,5 persen, dunia 3,66 persen,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (11/8). Meski demikian, Wiku menyebut ada 22 provinsi di Indonesia yang memiliki angka kematian Covid-19 di bawah rata-rata dunia. Yaitu, DKI Jakarta 3,56 persen, Sulawesi Selatan 3,18 persen, Jawa Barat 3 persen, Bali 1,28 persen, Papua 1,06 persen dan Kalimantan Timur 2,84 persen. Maluku Utara 3,3 persen, Gorontalo 2,54 persen, Maluku 1,8 persen, Sumatera Barat 2,8 persen dan DI Yogyakarta 2,85 persen. Kemudian Riau 1,8 persen, Aceh 2,8 persen, Papua Barat 1 persen, Kalimantan Barat 0,96 persen dan Kalimantan Utara 0,67 persen. Sulawesi Barat 1,8 persen, Sulawesi Tengah 3,24 persen, Jambi 1,9 persen, Bangka Belitung 0,9 persen, Nusa Tenggara Timur 0,65 persen dan Sulawesi Tenggara 1,37 persen.

Berada di Bawah Rata-rata Dunia, Ini Strategi Satgas Penanganan COVID-19 Tekan Angka Kematian di 22 Provinsi Indonesia

Indonesia jadi salah satu negara dengan kasus virus corona tertinggi di Asia Tenggara. Di sisi lain, 22 provinsi di Indonesia sukses menurunkan angka kematian akibat virus corona. Juru bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito, membeberkan bahwa angka kematian rata-rata dunia mencapai 3,64%, sedangkan 22 provinsi di Indonesia berhasil menekan angka kematian di bawah presentase tersebut. “Angka kematian dunia 3,64% persen dan kita ada 22 provinsi yang memiliki angka kematian di bawah angka dunia. Demikian pula dengan sisanya, yaitu adalah 12 provinsi kita harapkan juga bisa ditekan,” imbuhnya saat konferensi pers virtual, Selasa (11/8/2020). Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah pun mengatur strategi dengan memfokuskan penanganan pasien yang parah hingga menurunkan risiko kematian dan dapat kembali pulih. “Pada saat ini kita fokus pada penanganan kasus-kasus yang symptomatic atau bergejala supaya mereka bisa sembuh dan selamat. Namun, disaat yang bersamaan pemerintah juga meningkatkan peningkatan testing sehingga kasus-kasus yang asymptomatic atau tidak bergejala bisa teridentifikasi untuk bisa dilakukan isolasi mandiri,” imbuhnya.

Jokowi Perintahkan Tekan Angka Kematian Covid di 8 Provinsi

Presiden Joko Widodo kembali memperingatkan jajarannya di kabinet kementerian agar memprioritaskan penanganan kasus Covid-19 di delapan provinsi demi menekan kasus kematian akibat Virus Corona. Delapan provinsi tersebut yakni Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Papua. Beri prioritas penanganan di delapan provinsi,” ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas pengarahan kepada Komite Penanganan Pemulihan Ekonomi Nasional dan Covid-19 melalui video conference pada bulan Juli kemarin. Jokowi menyebut, delapan provinsi tersebut menyumbang 74 persen kasus covid-19 di Indonesia. Untuk itu ia meminta agar angka kematian akibat persebaran kasus tersebut dapat ditekan serendah-rendahnya. “Targetnya sudah jelas, turunkan angka kematian serendah-rendahnya. Tingkatkan angka kesembuhan setinggi-tingginya, dan kendalikan laju pertumbuhan kasus positif baru secepat-cepatnya,” katanya. Mantan wali kota Solo itu juga menekankan pengendalian Covid-19 melalui 3T atau testing, tracing, dan treatment secara masif dan lebih agresif.

Jokowi juga meminta agar kekurangan mesin PCR, Alat Pelindung Diri (APD), maupun rumah sakit yang masih kekurangan peralatan untuk menangani covid-19 dapat segera diatasi. “Peralatan RS yang kekurangan segera selesaikan, segera bereskan. Komunikasi yang efektif dengan rumah sakit, dengan masyarakat, dengan daerah harus dilakukan seefektif mungkin,” ucap Jokowi. Dia sebelumnya telah meminta prioritas penanganan Covid-19 di delapan provinsi yang kasusnya masih tinggi. Jatim diketahui menjadi provinsi tertinggi persebaran kasus Corona. Berdasarkan data 26 Juli 2020, kasus covid-19 di Jatim mencapai 20.539 kasus. Sementara menyusul Jakarta di posisi kedua 19.125 kasus. Jumlah kumulatif kasus di Indonesia sebanyak 98.778 kasus. Dari jumlah tersebut, 56.655 orang sembuh dan 4.781 meninggal dunia.

3 Penyebab Indonesia Sulit Tekan Kasus Kematian Covid-19

Kasus kematian yang disebabkan Covid-19 di Indonesia menembus 5.388 orang. Indonesa menduduki ranking ke-103 dari 215 negara di dunia dengan rasio jumlah kasus kematian Covid-19 per satu juta penduduk. Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah mengungkap tiga penyebab Indonesia masih sulit menekan laju kematian Covid-19. Pertama, penanganan yang terlambat “Potensi penyebab kematian pertama adalah penanganan yang terlambat karena pasien juga datang ke rumah sakit lebih buruk daripada kondisi di awal,” ujarnya dalam Talk Show Covid-19 Dalam Angka di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Rabu (5/8/2020). Dewi menyebut, masyarakat Indonesia cenderung menganggap enteng jika menemukan gejala Covid-19. Bila muncul gejala ringan, mereka memilih mengabaikan atau cukup minum obat tanpa resep dokter.

Namun, jika kondisi kesehatan memburuk, baru bergegas ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. “Jadi kebanyakan kita temui pasien-pasien di rumah sakit ini ketika kondisi memburuk baru ke rumah sakit. Nah, ke rumah sakit sementara rumah sakit sudah penuh. Tentu agak sulit untuk mana yang lebih diprioritaskan,” ucap dia. Penyebab kedua adalah masih tingginya penyakit menular dan tidak menular di semua wilayah di Indonesia. Akibatnya, pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta paling cepat meninggal dunia setelah terpapar Covid-19.

Penyebab Terakhir

Penyebab terakhirnya fasilitas kesehatan seperti alat kesehatan dan sumber daya manusia. Dewi menyebut, fasilitas kesehatan di Indonesia belum memadai sementara jumlah penduduk mencapai 270 juta jiwa. “Kita punya PR terkait jumlah penduduk banyak, fasilitas kesehatan juga. Jadi pesannya bagaimana ketersediaan tempat tidur, ventilator,” jelas dia. Menurut Dewi, Indonesia belajar dari Amerika Serikat dalam menangani Covid-19. Di mana, masyarakat diminta tidak langsung ke rumah sakit rujukan jika terpapar Covid-19. Rumah sakit rujukan hanya diperuntukkan bagi pasien Covid-19 dengan gejala berat. Sementara pasien bergejala ringan atau sedang akan dirawat di rumah sakit darurat.

(Source: merdeka.com, cnnindonesia.com, liputan6.com)

Leave a Reply