Adaptasi New Normal

Adaptasi New Normal

Adaptasi New Normal; Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi menghentikan aktivitas pemeriksaan orang di 14 lokasi check point Covid-19 yang tersebar di pintu masuk dan perbatasan. Penghentian 14 check point Covid-19 ini menyusul diberlakukannya adaptasi new normal.

Hal itu tertuang dalam surat edaran Wali Kota Bekasi nomor 443.1/714/SET.COVID-19 tertanggal 16 Juni 2020. Selain menghentikan aktivitas pengawasan PSBB, dalam surat edaran itu tertulis tiga poin lainnya. Pertama, pembongkaran seluruh tenda, peralatan, dan fasilitas yang terpasang di Posko Check Point Covid-19. Kemudian mengembalikan personel petugas gabungan ke unit kerja atau kesatuan masing-masing, baik itu TNI, Polri, dan Satpol PP. Poin terakhir dituliskan ucapan terima kasih atas peran aktif dalam bersama melawan Covid-19. “Resmi dihentikan sejak Selasa kemarin,” kata Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Meskipun pengawasan pelanggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di 14 check point perbatasan Kota Bekasi telah dihentikan, Pemkot masih tetap melakukan pengecekan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM).”Pengecekan masih terus kita lakukan untuk mencegah Covid-19,” katanya. Sementara, Kasat Lalu Lintas Polres Metro Bekasi Kota, Ajun Komisaris Besar Ojo Ruslani, mengatakan, check point Covid-19 sudah tidak ada lagi di jalan-jalan.”Kita sudah terima surat edaran dari Wali Kota Bekasi, jadi tidak ada lagi pengecekan check point Covid-19,” katanya. Adapun 14 titik check point Covid-19 yang didirikan pada saat PSBB di Kota Bekasi sejak Maret lalu berada di perbatasan wilayah dan pusat keramaian, seperti stasiun dan terminal.

Aktivitasnya adalah melakukan pemeriksaan kesehatan kepada orang yang keluar masuk Kota Bekasi, termasuk pemeriksaan surat izin keluar masuk (SIKM) demi mencegah penularan virus Corona. Menurut dia, dasar penghentian aktivitas check point Covid-19 ini merujuk pada surat yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Covid-19 Kota Bekasi. Surat diteken oleh ketua tim iyang merupakan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi. Meski demikian, kata dia, pengawasan protokol kesehatan oleh petugas gabungan di tingkat kecamatan tetap dilakukan. Pengawasan dilakukan secara keliling untuk mendisiplinkan masyarakat supaya patuh menjalankan protokol kesehatan.

Berikut beberapa prekembangan terbaru setelah diberlakukannya new normal yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) di bawah ini;

Mengatur Kebiasaan Baru, Bukan Menekan Warga

Menata kebiasaan baru di tengah pandemi Covid-19 memunculkan banyak tekanan. Sebagian warga beranggapan mereka dibatasi dan dikekang. Namun, penataan kebiasaan baru ini harus dilakukan untuk bisa melewati pandemi Covid-19. Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya yang juga Kepala BPB dan Linmas Surabaya, Irvan Widyanto menuturkan, dalam Perwali yang sudah diteken Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ingin memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk mendisiplinkan diri dalam menerapkan protokol kesehatan. “Filosofi dari Perwali itu menaruh kepercayaan kepada masyarakat. Dengan begitu, kesadaran masyarakat akan tumbuh. Nah, ketika kesadaran itu tumbuh, maka itulah arti mitigasi yang sebenarnya,” kata Irvan.

Ia melanjutkan, saat ini masyarakat tidak butuh ditekan-tekan lagi oleh aparat dan sebagainya. Tapi yang dibutuhkan sekarang ini adalah masyarakat dirangkul untuk mengatur masyarakat yang lain untuk bisa patuh protokol kesehatan di tengah pandemi ini. Pemkot, katanya, tidak ingin membebani warganya dengan pengenaan denda-denda. Makanya, dalam Perwali itu tidak ada sanksi berupa denda-denda, karena memang yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran masyarakat dan masyarakat perlu dirangkul untuk menertibkan masyarakat yang lain. Pihaknya juga ingin mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menghadapi pandemi Covid-19 ini. Bahkan, apabila ada yang melanggar protokol kesehatan, diharapkan masyarakat saling mengingatkan.

Kapolda Metro Jaya Sidak ke Mal, Pantau Penerapan Protokol Kesehatan

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana mendatangi sejumlah mal dan pasar di Jakarta untuk memantau pelaksanaan protokol kesehatan dalam memasuki tatanan normal baru atau new normal. Beberapa Mal yang disambangi antara lain Gandaria City, Senayan City, Pasar Tanah Abang, dan Plaza Indonesia. Nana memutari sejumlah sudut di tempat perbelanjaan ingin memastikan pengelola telah menerapkan protokol kesehatan. “Kami melakukan pengecekan bagaimana kesiapan daripada kesiapan mal. Ini untuk masalah protokol kesehatan sudah dilaksanakan,” kata Nana di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa kemarin. Dia mengatakan, pengelola mal memiliki kewajiban untuk menyiapkan protokol kesehatan kondisi pandemi. “Kewajiban ini untuk memutus mata rantai dan persebaran COVID-19 di ruang publik,” ujar Nana.

Dari hasil peninjauannya, Nana mengatakan, pengelola mal maupun pasar sudah menjalani protokol kesehatan. Bahkan ada para pengelola menerapkan sistem one way kepada para pengunjung yang datang. “Ini agar masyarakat tidak saling berselisihan saat jalan,” tuturnya. Kemudian untuk pengguna lift juga sudah tidak perlu lagi menekan dengan jari tangan. Tetapi dengan mendekatkan tangan sesuai dengan tujuan lantainya. Selanjutnya, di mal juga sudah ada tim medis atau dokter yang siaga. Ini sebagai bentuk upaya pemberian pertolongan pertama jika ada pengunjung yang jatuh tak sadarkan diri. “Tentunya physical distancing juga tetap diperhatikan oleh pengelola,” tegas Nana. Jenderal bintang dua ini mengimbau kepada masyarakat agar tetap memerhatikan anjuran Pemerintah jika datang ke mal dan pasar. Sebab, kebijakan dengan dibukanya mal dan pasar oleh Pemerintah ini harus dimanfaatkan secara baik. “Sampai saat ini pandemi virus Corona ini belum selesai. Kita masih menghadapi masa Transisi PSBB menuju new normal atau tatanan kehidupan baru,” tutupnya. Turut mendampingi Kapolda Metro, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Novianto.

Tim Abdimas Ubaya Sebut Edukasi Normal Baru Harus Digalakkan

Sejak dibukanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan penerapan kehidupan baru di tengah pandemi COVID-19, edukasi kepada warga menjadi penting guna menekan angka penularan dan penyebaran virus. Tim pengabdian masyarakat Universitas Surabaya (Abdimas Ubaya), Anita Dahliana menyebut, bahwa edukasi normal baru dengan menanamkan kesadaran kepada warga mengenai pentingnya protokol kesehatan, menjadi bagian yang harus digalakkan. Hal itu lantaran banyaknya warga yang didominasi oleh dewasa tua atau lansia yang tergolong rentan dengan imunitas tubuh. “Edukasi terkait normal baru juga diimbangi dengan informasi kesehatan dalam menjaga daya tahan tubuh,” katanya dalam kegiatan sosialisasi kesehatan sebagai persiapan menjalani kehidupan normal baru di Balai RW 3 Pepelegi, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Ia melanjutkan, bentuk edukasi yang diberikan kepada warga bisa berupa gambaran mengenai proses penularan virus, faktor komorbid atau penyakit lain yang diderita warga sehingga dapat menimbulkan gejala yang rentan terhadap COVID-19. Kemudian cara menanganinya dan apa saja yang harus dipersiapkan menghadapi normal baru. “Suplemen dapat dikonsumsi, namun perlu ditunjang dengan nutrisi yang baik bagi daya tahan tubuh,” sambungnya. Ada beberapa tips kesehatan yang diberikan kepada warga dalam menghadapi normal baru di tengah pandemi COVID-19.

Pertama, terapkan physical distancing dan jaga jarak sekitar 1-2 meter dengan orang lain. Kedua, bawa masker cadangan dan gunakan masker sesuai standar WHO (World Health Organization) yang terdiri dari tiga lapis. Ketiga, pemakaian masker yang tepat untuk menutupi daerah hidung sampai dagu. “Ada tiga lapisan masker yang disarankan untuk digunakan sekaligus dibuat masyarakat. Lapisan paling dalam masker disarankan memiliki material yang bisa menyerap seperti katun, lapisan tengahnya berfungsi sebagai filter seperti bahan polypropylene, dan lapisan paling luar yang tidak bisa menyerap seperti bahan polyester. Namun, untuk lansia di usia 60 tahun ke atas atau memiliki faktor komorbid maka disarankan menggunakan masker bedah atau medis,” terang Anita Dahlia. Tips selanjutnya, mengajari warga dengan melakukan cuci tangan yang baik dan benar sesuai standar WHO. Berikutnya, etika batuk atau bersin yang benar menggunakan tissue. Jika tidak ada tissue gunakan siku tangan untuk menutupi. Olahraga yang cukup dengan durasi 30 menit dan frekuensi 3-5 kali/minggu. Menurutnya, olahraga yang berlebihan di luar kapasitas diri dapat membuat daya tahan tubuh menjadi menurun. Di samping itu, istirahat yang cukup serta pengendalian spiritual berfungsi untuk mengontrol stress berlebihan dan meningkatnya daya tahan tubuh. “Berjemur di bawah sinar matahari di pagi hari selama 10 menit, berguna untuk mengaktivasi vitamin D yang baik bagi tubuh,” pungkasnya.

(Source: sindonews.com)

Leave a Reply