Alokasi Anggaran Kapal Selam

Alokasi Anggaran Kapal Selam

Alokasi Anggaran Kapal Selam; Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengalokasikan Penyertaan Modal Negara (PMN) dalam APBN 2021 sebesar Rp 42,38 triliun kepada 8 BUMN dan satu lembaga. “Secara total alokasi PMN ke BUMN dan lembaga itu jumlahnya di APBN 2021 Rp42,38 triliun yang diberikan ke-8 BUMN dan satu lembaga,” ujar Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan DJKN, Kemenkeu, Meirijal Nur dalam diskusi Daring di Jakarta, Jumat, 6-10-2020. Meirijal menyebutkan 8 BUMN dan satu lembaga tersebut terdiri dari PLN, PT Hutama Karya, Sarana Multigriya Finansial (SMF), dan Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI). Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety) dibawah ini;

Kemudian Pelindo III, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), PAL Indonesia, dan Indonesia Eximbank atau LPEI. Meirijal merinci PLN mendapat PMN sebesar Rp 5 triliun yang akan digunakan sebagai pendanaan infrastruktur ketenagalistrikan untuk transmisi, gardu induk, dan distribusi listrik pedesaan.

SMF mendapat PMN sebesar Rp 2,25 triliun untuk mendukung penyediaan dana murah jangka panjang kepada penyalur KPR LPP. BPUI mendapat Rp 20 triliun untuk peningkatan kapasitas usaha dalam rangka menata industri peransuransian dan penjaminan. Pelindo III mendapat Rp 1,2 triliun untuk pengembangan pelabuhan Benoa dalam rangka mendukung program Bali Maritime Tourism Hub. ITDC mendapat PMN sebesar Rp 470 miliar untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung dalam penyelenggaraan KTT G20 tahun 2023 di Tana Mori Labuan Bajo.

KIW mendapat alokasi PMN sebesar Rp 977 miliar untuk mendukung pembangunan kawasan industri terpadu (KIT) Batang. PAL Indonesia mendapat sebesar Rp 1,28 triliun untuk mendukung kesiapan fasilitas produksi kapal selam dan pengadaan peralatan pendukung produksi kapal selam. Terakhir adalah Indonesia Exim Bank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebesar Rp 5 triliun untuk penyediaan pembiayaan, penjaminan dan asuransi serta penugasan khusus ekspor.

DSME Tingkatkan Fasilitas Produksi untuk Kapal Selam 3000 Ton

Galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) Korea Selatan memperluas fasilitas produksi kapal selamnya sebagai langkah pertama untuk meningkatkan daya saing, kata DSME dalam sebuah pernyataan. DSME baru-baru ini menyelesaikan pembangunan peralatan angkat dinding dermaga atas dan bawah kapal selam dengan kapasitas 3.000 ton. Tahun lalu, DSME menerima pesanan untuk empat kapal selam, termasuk proyek kapal selam medium KSS-III 3.000 ton dan tiga kapal selam untuk Angkatan Laut Indonesia, yang membutuhkan peningkatan fasilitas yang ada, lansir Defensenews.

Fasilitas atas and bawah kapal selam, yang sekarang telah selesai, adalah peralatan produksi inti yang digunakan untuk mengangkat kapal selam di darat, atau mengangkatnya dari laut untuk berbagai pemeriksaan. Diharapkan perluasan fasilitas top and bottom akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan daya saing konstruksi kapal selam. Kapal selam berukuran sedang 3.000 ton dari DSME akan berkontribusi untuk meningkatkan Angkatan Laut Korea Selatan. Unit pertama, kapal selam “Dosan Ahnchangho”, sedang dipersiapkan untuk dikirimkan dan dilantik, sementara kapal selam kedua 3.000 ton saat ini sedang dibangun. Selain itu, persiapan untuk pembangunan kapal selam pertama Angkatan Laut Indonesia sedang berjalan lancar, kata DSME.

“Fasilitas ini dirancang untuk menopang program pembangunan kapal selam KSS-III dan akan menjadi fondasi untuk pembangunan kapal selam 3.000 ton yang stabil selama 10 tahun mendatang. Kami akan membangun kapal selam tanpa cacat dengan teknologi dan manajemen yang berbeda, ” kata CEO DSME Lee Sung-geun.

Kemhan RI, PT PAL, DSME Bahas Pengadaan 3 Kapal Selam Baru

Pejabat dari Kementerian Pertahanan saat ini sedang dalam negosiasi dengan PT PAL dan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) untuk tindak lanjut atas pesanan tiga kapal selam diesel-listrik Tipe 209/1400 tambahan, seperti dilansir dari laman IHS Jane. Serangkaian verifikasi yang dilakukan oleh IHS Jane sejak awal Januari 2019 dari berbagai sumber industri dan pemerintahan telah mengkonfirmasi bahwa negosiasi berkaitan dengan pengaturan pembagian kerja yang dapat dilakukan untuk setiap kapal serta program kredit pertahanan dari Korea Selatan yang dapat digunakan untuk mendanai akuisisi tersebut.

Jika itu terwujud, maka kontrak tersebut akan mencakup paket dukungan serta pelatihan di ketiga kapal selam, diperkirakan bernilai sekitar $ 1,2 miliar. Indonesia menandatangani kesepakatan $ 1,1 miliar untuk tiga kapal selam Tipe 209/1400 dengan DSME pada bulan Desember 2011. Dua kapal berdasarkan kontrak telah dikirimkan, sementara kapal ketiga saat ini sedang menunggu peluncuran di lokasi PT PAL di Surabaya. Kapal selam pertama ditugaskan pada bulan Agustus 2017 sebagai KRI Nagapasa (403). Seperti ditunjukkan dalam poin-poin awal diskusi yang dilihat oleh IHS Jane, kapal pertama yang akan berada dalam kontrak lanjutan nanti, yang akan menjadi kapal keempat di kelas Nagapasa Indonesia secara keseluruhan, akan dirakit pada fasilitas DSME di Okpo, Korea Selatan.

Namun PT PAL akan membangun 2 dari enam modul kapal tersebut di Surabaya, sementara DSME akan membangun empat modul lainnya di Korea Selatan. Setelah siap, modul buatan Indonesia akan dikirimkan ke Okpo untuk perakitan.

Indonesia-DSME Negosiasi Tahap Akhir Kontrak Tiga Kapal Selam Tambahan

Pejabat Indonesia menyatakan telah memasuki tahap akhir negosiasi untuk menindaklanjuti pesanan tiga kapal selam Tipe 209/1400 dengan perusahaan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan dan kesepakatan diharapkan tercapai dalam beberapa bulan ke depan, seperti di lansir dari laman IHS Jane pada hari Kamis. Sumber-sumber industri pertahanan, yang telah memperbarui informasi IHS Jane tentang kemajuan negosiasi ini sejak awal Januari 2019, mengatakan bahwa jika semuanya berjalan dengan lancar, kontrak formal untuk kapal-kapal itu mungkin akan terwujud pada akhir Februari atau awal Maret tahun ini.

Namun, ada beberapa keputusan yang belum dibuat, dan itu terutama berkaitan dengan pengaturan pembagian kerja yang dapat dilakukan untuk setiap kapal, menurut konfirmasi dari narasumber. Setelah terwujud, maka kontrak yang mencakup paket dukungan dan pelatihan di ketiga kapal selam, diperkirakan bernilai sekitar $ 1,2 miliar ($400 juta/unit). Jakarta menandatangani kesepakatan senilai $ 1,1 miliar untuk 3 kapal selam Tipe 209/1400 dengan DSME pada Desember 2011. Dua kapal selam di bawah kontrak ini telah dikirimkan, sementara yang ketiga menunggu peluncuran di lokasi PT PAL di Surabaya. Kapal selam pertama telah ditugaskan di bulan Agustus 2017 sebagai KRI Nagapasa (403).

Sebagaimana ditunjukkan dalam poin-poin tahap awal diskusi yang terlihat dalam dokumen pertemuan yang diberikan kepada IHS Jane, kapal selam pertama dalam kontrak lanjutan, yang akan menjadi kapal keempat di kelas Nagapasa Indonesia secara keseluruhan, akan dirakit di fasilitas DSME di Okpo, Korea Selatan. Namun, Indonesia telah mengusulkan bahwa dua dari enam modul kapal selam ini dibangun oleh PT PAL di Surabaya, sementara itu DSME akan membangun empat sisanya di Korea Selatan. Setelah siap, modul buatan Indonesia akan dikirimkan ke Okpo untuk perakitan disana.

(Source: Jakartagreater.com)

Leave a Reply