Angka Kesembuhan Pasien Covid19

Angka Kesembuhan Pasien Covid19

Angka Kesembuhan Pasien Covid19; Selain mencatatkan tren peningkatan kasus positif setiap harinya, angka kesembuhan pasien Covid-19 di Indonesia juga ikut mengalami peningkatan. Bahkan dari update Jumat kemarin, angka pasien sembuh merupakan yang tertinggi sejak kasus dilaporkan pada 2 Maret 2020.  Dari laporan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, jumlah pasien yang sembuh bertambah 551 orang. Maka, total pasien sembuh sampai saat ini menjadi 9.443 orang atau 31.987 persen dari kasus terkonfirmasi.  Dengan tambahan 703 kasus baru harian pada 5 Juni 2020, total kasus infeksi sebanyak 29.521 orang. Jumlah pasien yang dirawat ada 18.308 orang atau 62.017 persen dari jumlah terkonfirmasi.  Sedangkan total korban meninggal karena Covid-19 ada 1.770 orang atau 5.996 persen dari kasus terkonfirmasi.

Berikut rincian beberapa provinsi dengan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 terbanyak di Indonesia yang telah dirangkum oleh Tim Support Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Boot Medis) di bawah;

-DKI Jakarta

Dari sebanyak 7.766 kasus yang dikonfirmasi di Ibu Kota, pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 2.751 orang. Sementara korban meninggal 524 orang.

-Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur melaporkan adanya 5.549 kasus positif, dengan pasien yang berhasil sembuh sebanyak 1.207 orang. Adapun pasien meninggal karena Covid-19 di Jatim 446 orang.

-Jawa Barat

Jabar mengkonfirmasi adanya 2.366 kasus positif sejauh ini. Sedangkan jumlah orang yang dinyatakan sembuh sebanyak 764 orang dan yang meninggal 158 orang.

-Sulawesi Selatan

Ada sebanyak1.776 kasus infeksi virus corona di Sulsel yang dilaporkan, sementara jumlah pasien sembuh sebanyak 673 orang. Adapun korban meninggal 93 orang.

-Jawa Tengah

Sebanyak 1.537 orang telah dilaporkan positif terinfeksi di Jawa Tengah. Sedangkan pasien yang sembuh berjumlah 407 orang dan yang meninggal 76 orang. 

Angka Kesembuhan Pasien Covid19

Angka kematian di Indonesia 

Angka kematian adalah perbandinggan orang yang meninggal dibandingkan dengan jumlah orang yang dites positif terinfeksi virus. Pada awal masa pandemi Covid-19 di Indonesia, sempat terjadi jumlah kematian lebih banyak daripada jumlah pasien yang sembuh. Menurut Tonang Dwi Ardyanto, dr., PhD dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, saat ini angka kematian semakin menurun dan semakin banyak pasien yang bisa sembuh. “Tentu salah satu faktor pentingnya: kita lebih berpengalaman merawat pasien Covid-19,” kata Tonang 5 Juni 2020. Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona SARS-CoV-2 merupakan penyakit yang masih baru. Tonang mengatakan bahwa tenaga medis memanfaatkan pengalaman dari infeksi virus sebelumnya, seperti SARS, Flu burung, dan Mers dalam menghadapi pandemi Covid-19. Selain itu, mereka juga saling bertukar pengalaman dan belajar dari sesama pelayanan kesehatan lainnya.

Perawatan pasien Covid-19

Tonang juga menjelaskan alur perawatan pasien Covid-19 di Indonesia sejak dinyatakan positif hingga dinyatakan sembuh. Setelah dinyatakan positif, maka pasien dirawat di rumah sakit. Kemudian untuk tingkat intensifitas perawatan, akan disesuaikan dengan kondisi pasien.

Menurut Tonang infeksi virus, seharusnya diterapi dengan antivirus yang spesifik. Karena sekarang belum ada antivirus spesifik untuk virus corona, maka perawatan dilakukan dengan beberapa obat antivirus yang sudah ada dan terapi yang sifatnya supportif (penunjang). Saat ini obat antivirus yang digunakan utamanya untuk virus yang sejenis, yakni virus Flu. Dalam standar panduan tatalaksana Covid-19 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, ada beberapa obat antivirus seperti Oseltamivir, Favipiravir, dan Remdesivir. Meskipun obat-obat tersebut belum dinyatakan spesifik untuk Covid-19, tapi digunakan dengan dasar pengalaman sebelumnya menghadapi infeksi virus sejenis. “Tujuan pemberian terapi pertama adalah berusaha membersihkan virus (walau obatnya belum spesifik), dan mencegah terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri. Karena ketika kena virus, daya tahan cenderung melemah, mudah kena infeksi sekunder,” kata Tonang. Selain itu, tujuan terapi atau perawatan yang kedua adalah menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh agar mampu melawan virus. Karena selama belum ada obat antivirus yang spesifik, maka pada dasarnya daya tahan tubuh yang melawan dan membersihkan virus tersebut. “Virus memiliki masa hidup (siklus hidup). Tubuh yang terinfeksi, kita jaga agar selama virusnya masih dalam siklus hidup di tubuh, kondisi tubuh pasien tetap kuat dan terjaga. Bila kita mampu melewatinya, maka pasien akan diharapkan sembuh,” kata Tonang.

Kapan pasien dinyatakan sembuh?

Sesuai dengan pedoman Kementerian Kesehatan, Tonang menyebut ada dua kriteria pasien bisa dinyatakan sembuh dari Covid-19. Pertama, bila ada akses dan fasilitas pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction), maka dinyatakan sembuh bila sudah 2 kali pemeriksaan PCR negatif dengan jeda minimal 24 jam antar pemeriksaan. Kedua, bila tidak ada pemeriksaan PCR, maka menggunakan perbaikan kondisi klinis dan sudah tidak adanya gejala atau tanda-tanda infeksi. Rincian kriteria ini dimiliki oleh dokter yang merawat pasien. “Kalau sudah sembuh, maka pasien dapat dipulangkan,” kata Tonang.

WHO Beri Kabar Melegakan Dunia, Sebut Virus Corona Tidak Bermutasi Menjadi Lebih Berbahaya

Virus corona menjadi sumber keresahan masyarakat dunia selama berbulan-bulan. Sejak kemunculannya, kasus positif semakin hari semakin bertambah, seolah tak akan pernah berakhir. Berbagai kekhawatiran muncul, termasuk tentang mutasi virus ini. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) memberikan kabar yang cukup melegakan. WHO menekankan, virus corona tidak akan bermutasi menjadi lebih berbahaya seperti yang dikhawatirkan sejumlah kalangan. Pakar epidemiologi penyakit menular, Dr Maria Van Kerkhove, dalam konferensi pers menerangkan bahwa ilmuwan seluruh dunia telah meneliti virus itu. Van Kerkhove menjelaskan, diketahui virus corona tidak akan bermutasi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya, seperti yang ditakutkan sejumlah pakar kesehatan. “Ada perubahan normal pada virus ini yang bisa diprediksi dari waktu ke waktu,” kata Van Kerkhove.

Angka Kesembuhan Pasien Covid19

Pejabat WHO itu merujuk pada mutasi asam ribonukleat, atau RNA virus, yang bisa ditemui pada keluarga coronavirus lainnya, seperti flu. “Sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa mutasi itu bisa memberikan dampak dalam hal kemampuannya untuk menularkan atau menyebabkan sakit yang lebih parah,” jelasnya. Van Kerkhove mengatakan, wabah ini jauh dari kata usai di mana dia menyebutkan, kejenuhan karena lockdown ataupun pengabaian kebersihan sosial bisa memberikan ancaman. Dia menerangkan, di tengah keputusan karantina yang dibuat pemerintah, orang mulai merasakan jenuh dengan tantangannya adalah menjaga masyarakat menaati aturan kebersihan yang ada. “Kita harus tetap kuat dan terus berjuang. Pemerintah harus terus berkoordinasi dan masyarakat tetap patuh selama lockdown diberlakukan,” paparnya. Van Kerkhove menuturkan, situasi bisa kembali memburuk dengan penerapan kembali karantina jika wabah sampai terjadi lagi. Dia berujar, dalam situasi tertentu, sejumlah langkah kesehatan harus diperkenalkan lagi, yang tentu membuat orang gusar, di mana dia sangat memahaminya.

Demikian semoga informasi terbaru diatas bermanfaat dan membantu melegakan hati dan pikiran anda. Karena badai pasti akan berlalu. Semoga kita bisa terus bergandengan bersama dalam menghadapi wabah pandemi ini.

(Source: Kompas.com, Intisari.grid.id)

Leave a Reply