Biofarma dan Sinovac

Biofarma dan Sinovac

Biofarma dan Sinovac: Nilai Kerjasama Strategis; Melihat perkembangan COVID-19 belakangan ini, pemerintah negara-negara dunia seakan tidak memiliki ritme yang sama untuk memperbaiki keadaan masing-masing wilayahnya. Negara-negara seperti New Zealand, Vietnam, Laos, Kamboja, dan negara-negara lain yang dapat menekan dan menang atas “perang” melawan Sars-Cov-2 ini juga terkesan tidak ingin membagi rahasia penanggulangan yang selama ini mereka terapkan. Memang pembatasan mobilisasi manusia menjadi penting, namun, melihat bahwasanya virus ini tidak memiliki wujud fisik, sehingga pokok permasalahannya bukan semata karena ada atau tidaknya lalu-lintas manusia, tapi bisa jadi hal-hal lain yang belum terungkap. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety) dibawah ini;

Hal-hal seperti gaya hidup, pola hidup sehat, sampai kepatuhan terhadap otoritas pemerintah juga dapat menjadi faktor-faktor lain yang memiliki andil pada kesuksesan, paling tidak 3 negara ASEAN yang memiliki nol kematian pada pandemi COVID-19 ini. Di sisi lain, kecakapan pemerintah baik itu pusat maupun daerah juga perlu menjadi acuan bagi benar atau tidaknya pelaksanaan penanggulangan COVID-19, khususnya di Indonesia. Dengan luas wilayah yang amat dahsyat, sudah tentu Indonesia memiliki barier alamiah dalam hal distribusi logistik Kesehatan. Berbeda dengan Vietnam, Laos, dan Kamboja yang semuanya merupakan negara yang didominasi daratan. Bahkan 3 negara tersebut memang bertetangga satu sama lain.

Kepentingan Vietnam untuk melakukan asistensi kepada 2 tetangganya yaitu Laos dan Kamboja merupakan suatu upaya yang sangat penting. Dengan ketiadaan angka kematian pada 3 negara itu membuktikan adanya kerja sama yang terjalin, baik itu soal pertukaran ahli, kontrol yang ketat pada garis batas masing-masing, sampai pengawasan distribusi obat-obatan dan bahan-bahan pokok lain yang dibutuhkan untuk menunjang pengentasan COVID-19 di 3 negara tersebut. Apalagi dengan fakta bahwa Vietnam dan Laos memiliki garis batas langsung dengan Provinsi Yunnan, Tiongkok, penutupan batas wilayah merupakan keputusan bersama yang tepat. Dengan adanya koordinasi dan kerja sama yang baik, 3 negara yang memiliki kesan ‘kurang maju’ di mata publik dunia, berhasil menunjukkan bahwa anggapan-anggapan lama itu sudah lagi tidak berlaku.

Biofarma dan Sinovac

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Walaupun saat ini sudah tidak ada lagi pengumuman harian jumlah total kasus COVID-19 dan turunannya, angka total kasus 106.336 (31 Juli 2020) dengan angka kesembuhan 64.292 masih merupakan tantangan bagi pemerintah Indonesia dan segenap pemangku kepentingan untuk tetap berusaha keras secepatnya melakukan inovasi-inovasi layanan serta produk kesehatan. Bila dibandingkan secara populasi, apabila 3 negara tersebut digabungkan baru menyentuh angka populasi 119.326.434 jiwa. Tentu dalam hal penanganan pandemi, Indonesia memiliki tantangan demografi yang besar juga kompleks.

Namun, segala daya dan upaya untuk kemanusiaan dan ketahanan sosial masyarakat perlu dilakukan. Apalagi terkait dengan sektor ekonomi riil di masyarakat yang sudah perlu menyalakan dapur pacu nya kembali agar kehidupan masyarakat akar rumput tetap berdenyut. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh Indonesia adalah memaksimalkan kerja-kerja sama yang dilakukan baik itu dalam fungsi bilateral, regional, maupun multinasional. Perkara memandang remeh COVID-19 di awal-awal pandemi, jadikanlah hal ini sebagai pelajaran pahit akan good governance melihat tantangan tata kelola Negara ini ke depannya.

Salah satu hal yang juga sudah banyak naik di pelbagai media daring, televisi, maupun cetak, adalah mengenai kerja sama Indonesia-dalam hal ini PT Bio Farma-dengan perusahaan Sinovac asal Beijing, Tiongkok. Menurut hemat penulis, hal ini sangat baik sekali bagi Indonesia, karena banyak turunan dari kerja sama pengetesan vaksin COVID-19 yang justru bisa menjadi titik tahapan peningkatan kualitas industri kesehatan nasional. Industri kesehatan bisa menjadi alternatif penyumbang devisa ke depannya ketika suatu waktu nanti Indonesia sudah menjadi negara service-based economy, namun kita tidak akan membahas soal itu sekarang.

Biofarma dan Sinovac

Dalam penyampaiannya kepada salah satu kanal berita daring, Sekretaris Perusahaan Bio Farma, Bambang Heriyanto mengungkapkan banyak hal, yang salah satu intinya adalah proses dari adanya ide sebuah produk vaksin hingga menjadikan itu sebagai produk yang layak edar, memiliki prosedur yang tidak kalah rumit dari banyaknya istilah virus COVID-19 itu. Sulitnya memahami istilah-istilah saintifik dan yang berhubungan dengan industri kesehatan, tentu membuat banyak pihak yang mengambil perspektif skeptis, yaitu sisi Chinanya saja.

Dengan banyaknya isu yang terjadi baik itu mengenai TKA China, nasib ABK Indonesia di kapal ikan China, perang dagang AS-China, sampai pada memanasnya isu Laut China Selatan tentu menjadi sorotan khalayak di Indonesia. Kurangnya “klarifikasi” atau penjelasan mengenai pelbagai isu yang terkait dengan China baik itu dari pihak perusahaan PMA, Kedutaan RRT, maupun pemangku kepentingan lain, membuat isu-isu tersebut menjadi liar. Padahal kalau mau sedikit saja mencari tahu dan menelusuri dari sumber-sumber primer daring, tentu banyak ulasan, fakta, maupun gagasan alternatif lain soal China yang dapat diakses oleh khalayak Indonesia. Spesifik soal kerja sama vaksin antara Bio Farma dan Sinovac, perlu diketahui sesuai dengan beberapa artikel pemberitaan sebelumnya, kerja sama riset vaksin atau barang-barang medis seperti obat-obatan, peralatan medis antara Bio Farma dan pihak-pihak asing dan aseng, bukanlah sesuatu yang baru. Dengan kerja sama pandemi COVID-19 ini lah Indonesia harus berbangga kalau Biofarma terbukti memiliki kapasitas yang tidak kalah dengan negara-negara lain. Khalayak luas sudah sepatutnya berada di belakang Bio Farma dan entitas-entitas industri lain yang dapat membanggakan Indonesia di kancah internasional.

Penulis dalam hal ini memang bukan pakar dari virologi maupun epidemiologi. Namun, menurut pemaparan Sekretaris Perusahaan Bio Farma, panjangnya prosedur sehingga suatu produk vaksin dapat dilego di pasar pertama-tama dimulai dari skala laboratorium. Kandidat-kandidat formula vaksin yang ada kemudiann dipilih mana yang akan dilanjutkan untuk proses riset, sebelum benar-benar bisa beredar dan dipergunakan secara luas di masyarakat. Setelah fase skala lab, akan dilakukan fase pre-klinis pada hewan. Dalam fase ini elemen utama yang diamati adalah untuk safety dan efikasinya. Sehingga kalau pada tahap ini kandidat vaksin bereaksi negatif terhadap subjek hewan yang terpilih, maka tidak akan dilanjutkan ke fase berikutnya.

Biofarma dan Sinovac

Selanjutnya baru memasuki fase clinical trial atau percobaan klinis. Fase ini disebut dengan fase percobaan I. Paling tidak pada fase ini, dibutuhkan sekitar 20-100 sukarelawan untuk disuntikkan formula vaksin guna menguji tahapan awal aspek safety dari kandidat vaksin tersebut. Berlanjut ke fase II, akan lebih banyak melakukan pengecekan terhadap khasiat dan efektivitas vaksin, atau bila kemungkinan kandidat vaksin memiliki efek-efek samping. Pada Fase II percobaan klinis ini paling tidak membutuhkan 100-500 sukarelawan. Kerja sama yang sedang dilaksanakan oleh Bio Farma dan Sinovac dengan ramai nya pemberitaan adalah percobaan klinis Fase III. Subjek yang dilibatkan lebih banyak dibandingkan dengan Fase II, yaitu sebanyak 1.620 orang. Namun Fase III ini, masih menurut Bambang Heriyanto, masih memiliki tahapan-tahapan lain seperti persetujuan dari Komite Etik juga beragam prosedur dari Badan POM RI.

Hanya saja, karena sedari awal khalayak lebih memilih jalan pintas untuk mengamini bahwa menjadi skeptis adalah sesuatu yang perlu untuk segala yang berhubungan dengan China, sekelumit prosedur tadi tidak lagi diindahkan. Ketidakhadiran pemikiran empiris atas jalan pintas tersebut sudah barang tentu akan menjadi senjata makan tuan kepada Indonesia. Apalagi dengan potensi bahwa Bio Farma dapat menjadi salah satu pemimpin sektor industri kesehatan di Kawasan ASEAN di masa yang akan datang bisa jadi terhambat secara domestik. Seakan-akan kerja sama yang seharusnya saintifik dan empiris, dibawa masuk ke dalam ranah politis dan SARA.

Biofarma dan Sinovac

Lagipula, pelaksanaan uji klinis Fase III Sinovac ini juga dilaksanakan di negara-negara lain seperti Turki, Brazil, Bangladesh, dan Chili. Jadi apabila ada anggapan bahwa kandidat vaksin yang sedang diujikan oleh para sukarelawan di Indonesia mengandung unsur pseudo-science, ada baiknya melakukan kroscek terlebih dahulu ke media negara-negara yang sudah disebutkan di atas. Sinovac merupakan perusahaan yang telah berpengalaman dalam mengujikan produk mereka pada kasus SARS-Cov-1 (tahun 2002-2004), flu domestik, dan H1N1 di tahun-tahun silam. Sehingga pengalaman tersebut menjadi justifikasi objektif bahwa Sinovac bukan vaksin kaleng-kaleng. China dalam hal ini sudah memiliki platform teknologi riset antivirus, berkaca dari pengalaman pahit SARS yang mendera wilayah mereka dulu.

Penulis bisa memahami pandangan sebelah mata khususnya publik Indonesia terhadap perusahaan yang asalnya datang dari Tiongkok. Padahal kalau kita simak di website Sinovac, kita dapat mengetahui banyak data seperti profil, struktur perusahaan, laporan keuangan, sampai pada aspek-aspek kerja sama kelembagaan, dan lain sebagainya. Sinovac juga merupakan perusahaan yang sudah melantai di bursa NASDAQ. Suatu perusahaan yang sudah IPO tentu bukan perusahaan yang memiliki kualitas sembarangan. Pandangan skeptis akan perusahaan Tiongkok yang berkemajuan, niscaya akan surut ketika mengetahui banyak data terbuka untuk public mengenai perusahaan Sinovac yang sudah melantai di bursa terkemuka di dunia.

Lagi pula, dalam masa pandemi ini, 140 lembaga dan universitas di dunia sedang melakukan berbagai macam daya dan upaya penelitian vaksin COVID-19. Namun, tidak lebih dari 20 entitas baik itu lembaga penelitian maupun kampus yang sudah melewati uji klinis. Pihak-pihak yang sedang pada tahap uji klinis Fase III antara lain adalah Sinovac (Beijing, China), AstraZeneca (Oxford, Inggris), Moderna (US), dan CanSino. Kembali pada kesuksesan Vietnam, Laos, dan Kamboja dalam bekerja sama sehingga memiliki nol kasus kematian COVID-19 Indonesia sebagai negara dengan letak geografis yang strategis tentu dapat lebih fleksibel menjalin kerja sama dengan berbagai pihak demi kemanusiaan. Tinggal bagaimana nantinya Bio Farma dapat mengajukan peta jalan kerja sama lanjutan industri kesehatan dengan mengedepankan kepentingan Indonesia, seperti transfer teknologi, penggunaan SDM serta TKDN yang lebih besar, dan lain sebagainya.

Biofarma dan Sinovac

Apalagi kalau menilik pada tahun 2020 ini adalah tahun ke 70 hubungan diplomatik Indonesia-China. Sudah selama ini dua negara yang sama besar, memiliki sejarah panjang, dan rajutan masa depan yang masih cerah, ada baiknya berfokus untuk mencari titik temu daripada mengutuk dalam kegelapan. Menurut hemat penulis, China merupakan suatu negara yang cukup terbuka dengan saran dan masukan. Apalagi bila dihubung-hubungkan dengan penguatan kerja sama bilateral dua negara, upaya mengedepankan kepentingan Indonesia tentu dapat dipahami oleh China. Dengan begitu segenap perencanaan peta jalan baik itu kerja sama industri kesehatan, perdagangan, pariwisata, industri alat berat, ritel, e-sport, pertahanan, dan lain sebagainya dapat didiskusikan secara terbuka.

Salah satu lembaga konsultansi yang dapat diandalkan untuk menjalin relasi dan kerja sama lainnya antara pihak Indonesia dan Tiongkok adalah Gentala Institute. Penjembatanan 2 negara yang besar ini, perlu secara terus-menerus dijalin. Mulai dari kegiatan skala perusahaan, kewilayahan, sosial-budaya, bahkan sampai mencakup people-to-people perlu juga terus ditingkatkan. Hadirnya Gentala Institute diharapkan bisa menjadi solusi atas sekelumit relasi antara Indonesia dan China. Sebagai penutup, kira-kira kalau di China sendiri ada salah satu idiom yang juga mirip dengan ‘seeing is believing’, yaitu berbunyi 百闻不如一见 baiwen buru yijian. Dengan melihat China yang semakin lama semakin memiliki kapasitas teknologi maju, tidak ada cara lainnya selain pergi langsung ke China untuk melihat sendiri kemajuan-kemajuan yang mereka telah kuasai. Semoga dinamika 70 tahun hubungan Indonesia – China semakin konstruktif. Sekalian penulis sedari awal menitip ucapan Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.

(Source: News.detik.com)

Leave a Reply