Disease X

Disease X

Disease X Disebut Sebagai Pandemi Setelah Covid-19; Para ilmuwan dunia memprediksi akan ada pandemi lainnya yang akan dihadapi manusia setelah Covid-19. Profesor emeritus dari Department of Emergency Medicine Arizona University, Amerika, Kenneth Iserson menyatakan bahwa di masa mendatang, sejumlah penyakit menular berpotensi besar akan mewabah seperti pandemi Covid-19. Saat ini, sejumlah penyakit menular tersebut disebut sebagai Disease X. Disease X sendiri merupakan istilah untuk penyakit menular yang belum diketahui manusia. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

“Ada kemungkinan penyakit menular yang tidak dikenal lainnya sudah bersirkulasi dan bisa memberikan implikasi dahsyat,” kata Kenneth Iserson, dikutip dari The Straight Times. Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengatakan, istilah Disease X sudah digunakan oleh World Health Organization (WHO) sejak tahun 2015. Istilah itu digunakan untuk sebuah penyakit yang belum diketahui. “Penyakit X ini adalah nama untuk penyakit yang belum diketahui. Huruf X dalam bahasa Inggris sering dikaitkan dengan sesuatu hal yang belum diketahui, tapi dari tahun 2015, istilah ini sudah dipakai oleh WHO,” ujar Dicky.

Dia memaparkan, ada sekitar 1,6 juta virus yang belum diketahui manusia. Dari jumlah itu, sekitar 827 ribu yang dinilai bisa menginfeksi manusia dan hanya 263 virus yang benar-benar bisa menginfeksi manusia. Disease X ini, kata Dicky, dianggap sebagai penyakit mudah menular yang berpotensi menyebabkan pandemi, dan menyebabkan kematian dalam jumlah banyak. “Yang artinya 99 persen virus yang bisa menjadi ancaman pandemi itu belum kita ketahui. Memang luar biasa besar ancaman pandemi yang disebabkan oleh virus yang asal muasalnya dari hewan,” kata Dicky.

Dicky mengatakan, WHO sebenarnya memiliki daftar penyakit yang menjadi prioritas untuk ditangani. Misalnya Covid-19, HIV, dan Ebola. Dalam regulasi kesehatan global yang dirancang WHO, WHO berharap setiap negara memiliki kemampuan untuk mendeteksi secara dini ancaman dari suatu wabah, epidemi, maupun pandemi. “Deteksi merupakan kunci dari menanggulangi pandemi. Kemampuan penelusuran penyakit, terutama pada hewan juga penting untuk dikuasai. Soal dengan Disease X yang dilaporkan di Kongo, saya lihat itu bukan Ebola,” kata dia.

Temuan Disease X itu menurutnya telah memperlihatkan adanya ancaman pandemi yang semakin besar. Memang biasanya pandemi terjadi setiap lima tahun sekali dalam 20 tahun terakhir. Namun, Dicky memprediksi, pandemi penyakit menular lainnya saat ini bisa lebih cepat terjadi. “Era pandemi artinya ancaman pandemi akan lebih serius. Artinya sistem kesehatan kita harus lebih kuat. Selama pandemi covid-19 ini kita mendapatkan tes terhadap sistem kesehatan kita,” ujarnya.

Dia pun membeberkan alasan mengapa pandemi bisa lebih cepat terjadi dalam kurun waktu yang biasa terjadi. Menurutnya, pengabaian asas keseimbangan alam menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, interaksi antara hewan, manusia, dan alam semakin hari semakin tinggi. Dia pun mendorong adanya pendekatan one health. “Itulah sebabnya kami mendorong dunia untuk melakukan pendekatan one health atau pendekatan yang menyelaraskan pembangunan kesehatan dan lingkungan. Sebab, ketidakharmonisan alam dengan manusia akan menyebabkan kerugian besar di bidang Kesehatan,” terangnya.

10 Fakta ‘Disease X’ yang Diprediksi Jadi Pandemi Seperti COVID-19

1. Masih berupa hipotesis

‘Disease X’ merupakan epidemi yang masih menjadi hipotesis para ilmuwan dan diprediksi sangat mungkin menimpa manusia di masa mendatang. Kondisi itu termasuk dalam cetak biru daftar penyakit prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Daftar penyakit itu ditinjau setiap tahun untuk mengidentifikasi 10 virus yang berisiko pada kesehatan global serius. Penyakit-penyakit tersebut diprioritaskan dalam penelitian dan pengembangan sebagai tindakan pencegahan.

2. Merupakan penyakit infeksi emerging (PIE)

PEI adalah penyakit menular yang kasusnya meningkat dalam 20 tahun terakhir. Secara keseluruhan, kondisi itu menyumbang 12 persen dari patogen manusia. PEI dapat menyebar dan menjadi pandemi besar seperti COVID-19, hanya dengan satu virus yang mampu ditularkan secara signifikan antar manusia. ‘Disease X’ dapat muncul dan manusia mungkin akan kesulitan menanganinya karena tindakan pencegahan yang masih terbatas.

3. Dibuat sejak Februari 2018

Pada Februari 2018, para ahli berkumpul di Jenewa, Swiss untuk mendiskusikan cetak biru lembaga penelitian dan pengembangan. Selama pertemuan tersebut, ‘Disease X’ dimasukan dalam daftar ancaman kesehatan prioritas utama, setara dengan virus Ebola, Zika, demam Lassa, dan SARS.

4. Disebabkan oleh patogen X

EcoHealth Alliance, yang mempelajari ancaman virus zoonosis yang belum ditemukan sebagai bagian dari Global Virome Project (GVP), menulis di situs web mereka bahwa sumber virus tidak dapat diprediksi. Perubahan iklim menjadi faktor yang menyulitkan, apalagi jika virus mematikan muncul saat mencairnya lapisan tanah beku setelah ribuan tahun.

5. Sebagai bahan penelitian

Menurut WHO, ‘Disease X’ mewakili pengetahuan bahwa epidemi internasional yang serius dapat disebabkan oleh patogen yang saat ini tidak diketahui penyebabnya. Cetak biru lembaga penelitian dan pengembangan berupaya untuk mempersiapkan diri menghadapi ‘Disease X’ yang tidak diketahui.

6. Membantu peneliti merencanakan masa yang akan datang

Ilmuwan pertama kali membuat cetak biru litbang pada 2016. Hal ini sebagai upaya mengatasi kesenjangan antara wabah pandemi dan kesiapan global. Kajiannya dapat membantu meminimalisir permasalahan sosial, ekonomi dan politik yang telah dialami selama pandemi COVID-19.

7. COVID-19 juga merupakan ‘Disease X’

Saat forum di Jenawa, para ilmuwan memprediksi ‘Disease X’ berasal dari hewan, dan muncul dari tempat yang perkembangan ekonominya beriringan antara manusia dan satwa liar. Ilmuan juga sebelumnya memprediksi mudahnya virus menyebar seperti flu musiman tetapi jauh lebih mematikan. Pandemi COVID-19 saat ini mungkin dapat dikategorikan sebagai ‘Disease X’ yang pertama.

8. Lebih berbahaya dari COVID-19

‘Disease X’ mungkin lebih mematikan daripada COVID-19, sangat menular dan bermutasi dengan cepat. “Cara penularannya tidak diketahui pada awalnya, begitu pula gambaran gejala atau tingkat keparahannya,” ujar profesor sekaligus wakil dekan penelitian di Saw Swee Hock School of Public Health di National University of Singapore, Alex Cook.

9. Ada kandidat potensial ‘Disease X’

Banyak ahli percaya ‘Disease X’ berasal dari penularan zoonosis, yang penularan virusnya dari hewan ke manusia. Ini adalah proses alami yang berpotensi cepat karena kegiatan ekonomi melalui kontak hewan dan manusia. Pada September 2019, Public Health England (PHE) menyatakan bahwa ‘Disease X’ dapat bermanifestasi ke bentuk infeksi bakteri dengan peningkatan resistensi antibiotik.

10. Menginspirasi cerita fiksi ‘Disease X’

Ada buku fiksi yang menulis tentang ‘Disease X’ yang ditulis Shannon C. Burdette berjudul Disease X by N. J. Croft and Disease X: The Outbreak. Buku ini menarik untuk dibaca karena menyajikan interpretasi penulis tentang epidemi mematikan.

(Source: merdeka.com, health.detik.com)

Leave a Reply