Indonesia Masuk Resesi

Indonesia Masuk Resesi

Indonesia Masuk Resesi; Kuartal III-2020 sebentar lagi selesai. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih dalam zona negatif seperti sebelumnya. Kondisi ini menandakan bahwa Indonesia sedang menuju ke dalam situasi resesi ekonomi. Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Kementerian PPN/Bappenas, Eka Chandra Buana, menyebut pertumbuhan pada kuartal III-2020 diperkirakan minus 2,2 persen. Pihaknya tidak menampik bila resesi ekonomi Indonesia sudah di depan mata. Pemerintah bukan tanpa upaya membangkitkan ekonomi Indonesia. Harapan itu tentu terus dikobarkan. Termasuk sudah merancang strategi pemulihan ketika pandemi corona pergi dan negara berangsur pulih.

Jadi untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi memang itu adalah salah satu hal yang paling sukar dilakukan untuk masa sekarang. Bahkan lembaga internasional seperti IMF (International Monetary Fund) sering merevisi proyeksi pertumbuhan ekonominya. Nah untuk yang kita proyeksi ekonomi itu kan sangat tergantung bagaimana kita pengendalian di dalam pandemi covid ini. Jadi kalau kami di dalam perkiraan di bulan Agustus kemarin kita perkirakan di triwulan III itu pertumbuhannya sekitar minus 2,2 sampai 0 persen. Salah satu pertimbangan yang kami lakukan itu yang kami soroti adalah tanda-tanda pulihnya perekonomian pasca relaksasi PSBB di bulan Juni yang lalu. Kita mengasumsikan memang tidak ada PSBB selanjutnya.

Namun demikian kan kita paham sekali ya bahwa kondisi sekarang ini ternyata cukup tinggi kasus positif yang terkena covid. Dan kemudian kembali diberlakukan PSBB di Jakarta di akhir triwulan ini Jadi kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi di triwulan ketiga mengarah ke batas bawah yang kami perkirakan sebelumnya. Namun demikian kami juga terus melakukan langkah-langkah positif dari sisi government sehingga intinya penurunan itu oke tetapi jangan sampai terlalu dalam jadi langkah-langkah positif itu seperti kita mempercepat penyerapan mengenai PEN dan sebagiannya. Berikut yang telah dirangkum Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

Jika ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran minus 2,2 persen sampai dengan 0 persen berarti sudah dipastikan kita masuk resesi?

Jadi resesi itu kan sebenarnya ditandai oleh adanya pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua Kuartal berturut-turut. Jadi memang apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ketiga masih dalam zona negatif jadi bisa dikatakan Indonesia itu masuk ke dalam masa resesi. Walaupun berbagai macam definisi mengenai resesi itu banyak.

Jika negatif dan terjadi resesi, dampaknya bakal seperti apa? Apakah investor bakal menahan uang untuk investasi ke Indonesia?

Jadi kalau misalkan kan kita mengalami resesi tentu berpengaruh terhadap perekonomian negara dan masyarakat. Jadi beberapa hal potensi yang akan terjadi pasti yang pertama kali adalah tenaga kerja yaitu peningkatan jumlah pengangguran. Ini sebetulnya sudah terlihat pada saat perlambatan pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 itu dampaknya adalah tingginya pekerja yang menghadapi tuntutan PHK atau dirumahkan. Tingginya pekerja yang ter PHK itu dan masuknya angkatan kerja baru ke pasar kerja dan juga kita melihat ekonomi yang ada terbatas. Dengan keterbatasan ekonomi itu sementara angkatan kerja baru yang tetap ada kita melihat jumlah lulusan terus ada, di tambah lagi PHK dan beberapa di rumahkan, tentu saja akan berimplikasi terhadap tingginya atau meningkatnya jumlah pengangguran itu yang pertama.

Kemudian kedua terkait dengan penurunan daya beli masyarakat. Jadi daya beli masyarakat itu turun itu lebih disebabkan oleh hilangnya pendapatan sebagian masyarakat yang hilang pekerjaan dan juga adanya mungkin potensi di sisi kenaikan harga karena gangguan dari sisi penawaran. Mungkin bisa seperti itu. Karena ini dengan adanya covid kalau kita lihat bahwa di transportasi beberapa naik karena mungkin ada pembatasan kapasitas.

Kemudian yang berikutnya itu adalah terkait dengan keputusan investasi. Jadi adanya tekanan pada neraca perusahaan akibat rendahnya penerimaan seiring dengan penurunan demandnya dan juga ditambah ketidakpastian di dalam kondisi covid ini, itu mendorong investor asing ataupun domestik itu mungkin akan menunda keputusan untuk investasi. Itu sama saja pada saat kita ingin investasi dengan tepat lah, kita melihatnya ternyata kalau demand-nya turun kemudian di sisi perusahaannya sendiri juga pasti akan mengalami tekanan di dalam neraca perusahaan. Nah, itulah yang berdampak mungkin kita enggan untuk melakukan investasi.

Dengan berbagai kondisi terancam resesi, kemudian apa yang harus diperkuat untuk ketahanan ekonomi Indonesia?

Jadi di sisi kondisi seperti itu yang perlu kita lakukan sebagai government adalah pertama tentu saja kesehatan ya. Namun demikian kita juga harapkan kita bisa menggerakkan ekonomi. Nah inilah yang sebenarnya kita butuh kerjasama antara government dan masyarakat. Artinya apa? Ketika government membuka untuk kesempatan berusaha agar ekonomi tidak drop tolong juga masyarakat mematuhi semua protokol kesehatan yang berlaku. Kan kita sering mentang-mentang kita sudah dibuka mal kita jalan saja bergerombolan. Kemudian juga kalau kita lihat di jalan-jalan sudah tidak pakai masker dan itulah yang sebenarnya yang pemerintah minta. Oke kita ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat juga jadi pada saat kita buka, oke kita buka tapi tolong patuhi protokol kesehatan yang ada jangan mentang-mentang ini dibuka oh ya udah mereka kemana-mana.

Contoh misalkan paling gampang Sabtu-Minggu orang-orang berbondong-bondong keluar kota kemudian tidak ada social distancing dan itulah fatal. Jadi intinya adalah pertama tentu saja government akan konsen di masalah kesehatan namun tidak melupakan bagaimana kita menggerakkan ekonomi. Upaya peningkatan ketahanan ekonomi itu pertama kali kita lakukan yaitu dari sisi kesehatan pasti dong kita akan mendorong fasilitas kesehatan, jumlah tempat tidur, ICU, ventilator dan juga tenaga kesehatan terutama di Jakarta dan di luar Jawa.

Kemudian yang kedua tentu saja peningkatan kapasitas testing bagi masyarakat baik menggunakan rapid test maupun swab test. Jadi kalau kita lihat misalkan di Bappenas lah waktu itu kita sudah lakukan swab test untuk semua pegawai. Nah kemudian adalah contact tracing bagi masyarakat yang melakukan kontak terhadap suspect covid dan juga kita dari sisi kesehatan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Itu yang tadi saya sampaikan, oke ekonomi bergerak tapi please masyarakat patuhi protokol kesehatan yang kita tetapkan.

Dan kemudian dari sisi ekonomi tentu saja kondisi seperti ini kita harus melakukan strategi secara rinci konsisten dan detail. Jadi yang pertama adalah penyiapan rencana panduan di tingkat nasional terkait dengan pemulihan. Dan tentu saja ini disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik daerah. Jadi misalkan contohnya di Bali kita kemarin melakukan kunjungan kerja. Kemarin itu sektor pariwisata sangat tertekan di situ nah sekarang pertanyaannya bagaimana kita buka? Karena pada saat kemarin ke sana dua periode berturut-turut sudah negatif sekarang bagaimana untuk balik itu seperti apa.

Tentu saja itu perlu disesuaikan. Kalau Bali seperti ini maka strategi pemulihannya harusnya mungkin ya pertama, oke pariwisata kita buka tapi di sisi lain pertanian pun mungkin kita perkuat. Karena apa? Pada saat kemarin pariwisata itu hancur ternyata yang masih mending dalam itu adalah ‘pertanian’ ini contohnya. Jadi kita di dalam pemulihan ekonomi itu harus memperhatikan kondisi dan karakteristik daerah yang berlaku. Kemudian selanjutnya kita menyusun tahapannya. Jadi tahapan rinci itu bagaimana. Jadi kalau kami di Bappenas itu kerja kami sudah punya strategi pemulihannya. Pemulihan itu apa yang kita dasarkan pertama itu terkait dengan risiko infeksinya. Kedua adalah bagaimana membukanya, itu adalah kita melihat apakah sektor tersebut itu dominan dan tentu saja yang perlu kita perhatikan apabila sektor itu dominan tetapi risiko infeksinya sangat tinggi. Contoh seperti apa? Contoh seperti di sisi kesehatan itu kan penting. Tetapi kalau itu kita buka tetapi infeksinya tinggi, oleh karena itu sektor-sektor seperti itu perlu penanganan yang sangat ketat.

Nah kemudian kita juga melihat juga mana-mana sektor yang bisa dilakukan melalui work from home (WFH). Jadi kita menganalisis beberapa sektor mana yang bisa dilakukan WFH mana yang tidak. Kalau kemudian itu dilakukan WFH kenapa kita tidak melakukan itu. Karena kan kalau dengan WFH itu bisa mengurangi risiko juga tetapi memang ada juga yang tidak bisa dilakukan. Di samping itu kita juga harus mensosialisasikan mengenai rencana dan petunjuk panduan kesehatan yang rinci bagi masyarakat dan masing-masing sektor ekonomi. Contohnya seperti ini pada saat kita membuka paling gampang pertanian atau nelayan. Perikanan Itu kan mungkin ini penting tetapi pada saat di laut bawa ikan kan begitu masuk pelelangan ikan bisa saja tidak ada social distancing dan sebagainya dan itu perlu dilakukan. Jadi pengawasan dan monitoring secara ketat mengenai protokol kesehatan penting di situ.

Kemudian berikutnya dari sisi ekonomi juga kita melihat adanya ketidakpastian. Dengan adanya pandemi ini kan kita tidak tahu kapan berakhir kita juga melihat adanya risiko second wave di sini. Jadi dalam hal ini kita perlu tetap update mengenai perkembangan informasi dari kondisi yang terbaru. Makanya yang tadi saya sampaikan di awal ini adalah masa-masa paling susah di dalam kita melakukan proyeksi di sisi ekonomi. Karena kita tidak tahu virus itu bakal seperti apa. Contoh ketika kita melakukan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) itu adalah kita sudah dianggarkan Rp695 triliun. Cuma pada saat itu dianggarkan artinya apa duit itu ada? Tetapi ternyata penyerapannya ini agak berat di sini. Nah itu kan penyerapan sangat tergantung dengan kondisi yang ada. Baik itu seperti mungkin bayangan saya masyarakatnya belum siap jadi itu seperti itu.

Jadi memang pertama dari sisi penyerapan itu pertama masalah data nah data itu makanya sekarang itu kita mulai memperbaiki untuk data terkait dengan sosial, pertama seperti itu. Dan itu juga yang kami sesalkan kenapa penyerapannya rendah contoh di bantuan sosial (bansos). Jadi di masalah data, kita melihat data itu sudah mulai kita perbaiki jadi sambil kita jalan itu kita monitor mana mana yang tidak mungkin.

Kemudian di sisi administrasi. Divisi administrasi juga kita lihat jangan-jangan mungkin ada masalah administrasi yang menyebabkan hal itu lambat misalkan terkait dengan pencairan dan sebagiannya. Kami juga punya plan B. Apabila tidak terserap maka segera government itu pemerintah akan merelokasikan untuk ke program yang lainnya dengan demikian di tahun 2020 program itu bisa terealisasi secara optimal mungkin itu yang kami lakukan.

Tapi optimis penyerapan PEN bisa terealisasi sampai akhir 2020?

Kalau optimis kita harus selalu optimis ya. Karena kita punya plan B yang tadi saya sampaikan. Jadi contohnya pertumbuhan lah, kita menginginkan yang tinggi. Kayak tadi misalkan ada angka minus justru saya berharap hitungan saya salah kalau angkanya lebih baik jujur itu lebih bagus dong.

Kalau masuk gambaran ke kuartal IV, vaksin bakal tersedia di akhir tahun. Apakah kira-kira di kuartal IV ekonomi Indonesia bisa melaju lebih tinggi dari kuartal III?

Jadi untuk kuartal empat itu sangat tergantung pertumbuhannya pada banyak faktor diantaranya itu adalah pertama perkembangan covid ini bagaimana sebenarnya. Yang kedua yang tadi saya bilang realisasi program PEN. Karena pada saat sekarang ini kondisi seperti ini satu-satunya bergerak ya adalah dari sisi konsumsi pemerintah. Kalau kita harapkan dari swasta suplai endingnya sudah tidak berlaku di situ. Mau tidak kau dari PEN.

Di satu sisi adanya kepastian ketersediaan vaksin itu memberikan optimisme pada pelaku ekonomi dan kami berharap bahwa optimisme itu akan mendorong perbaikan ekonomi di kuartal IV. Namun demikian sebenarnya kalau dari sisi saya pribadi ya kami melihat vaksin itu baru akan memiliki dampak di tahun 2021. Itu terjadi ketika vaksin itu sudah didistribusikan secara massal oleh masyarakat. Kalau sekarang ini kan masih tahap uji coba kan kita mendengar ada gubernur yang bersedia di uji coba vaksin. Kalau itu sudah didistribusikan secara luas kepada masyarakat disitulah kita baru bisa berharap Oke ini adalah menuju masa depan yang lebih baik.

Misal realisasi PEN sudah berjalan dengan baik di kuartal IV, kemudian optimisme pelaku pasar sudah kembali normal, pertumbuhan di 2020 bakal seperti apa?

Jadi untuk di 2020 sebenarnya kita sudah sampaikan di nota keuangan kita, bahwa diperkirakan itu 2020 itu minus 1,1 sampai 0,2 persen pertumbuhannya. Nah pemulihan ekonomi itu di 2020 pertama balik lagi itu adalah keberhasilan penanganan wabah covid itu seperti apa dan keberhasilan itu tentu saja akan mendorong keyakinan masyarakat untuk konsumsi. Contoh sekarang paling gampang Mas Adit punya duit. Kalau misalkan disuruh ke Bali mungkin itu ada was-was kan dengan naik pesawat juga berpikir aman atau tidak ketika melakukan jalan-jalan menggunakan bus agaimana pasti seperti itu. Akhirnya daripada kenapa-napa mending stay di rumah.

Kemudian yang kedua Kembali ke tadi saya Sebutkan stimulus fiskal. Konsumsi pemerintahannya ini seperti apa? karena pada saat sekarang ini kan mau nggak mau yang bergerak itu konsumsi pemerintah. Kita harapkan konsumsi pemerintah itu bisa terus diakselerasi dan juga stimulus fiskal nya dalam hal ini itu bisa, dengan adanya akselerasi tersebut diharapkan bisa memberikan dorongan dari sisi konsumsi pemerintahnya itu yang kedua. Kemudian faktor ketiga mengenai bantuan keuangan terutama adalah untuk UMKM dan korporasi. Nah ini kan kalau kita lihat mungkin ya kemarin waktu kita kunjungan kerja ke Bali kita pergi ke salah satu pasar, pedagang pasar itu dia bilang Alhamdulillah baru sekali. Jadi dari pagi sampai siang baru satu orang pengunjung dan itu dari kita dan itu yang kita lihat bahwa kalau kita bisa mendorong pemulihan UMKM itu dampaknya akan sangat besar.

Jadi kami dari sisi pemerintah itu juga tetap mengupayakan mendorong perekonomian tumbuh positif meskipun saat ini risiko ke bawahnya itu jauh lebih besar daripada ada ke atasnya karena kondisi sekarang seperti ini. Apalagi kalau kita lihat masyarakat di sekeliling kita saya jalan-jalan orang tidak pakai masker disitu kumpul-kumpul main layangan di lapangan barang dan itulah seperti itu yang agak ngeri di situ.

Artinya dukungan dan kedisiplinan masyarakat juga penting dalam hal ini untuk menjaga pertumbuhan?

Pasti. Betul. Kita kan nggak mungkin kita istilahnya ngawasin satu-satu mungkin Satpol PP keliling satu-satu tidak mungkin seperti itu. Kamu dari sisi kita juga. Oke kita buka mal, taman-taman sudah kita buka Tolong dong protokol kesehatannya dilakukan.

Pemulihan ekonomi diperkirakan terjadi di 2021, paling cepat kira-kira di kuartal berapa bisa terjadi?

Untuk sekarang sebenarnya kami melihat bahwa pemerintah itu di dalam nota keuangan itu 2021 kita perkirakan fase pemulihan. Dan kita memperkirakan itu pertumbuhan antara 4,5 sampai 5,5 dengan titik point sekitar 5,0 persen. Dan kami melihat bahwa angka ini cukup realistis dan cukup konservatif.

Beberapa lembaga internasional IMF dan OECD (Organisation for Economic Co- operation and Development) dan ADB (Asian Development Bank) itu bahkan diperkirakan jauh lebih tinggi. Itu kalau IMF itu sekitar 6,1 persen di 2021. OECD 5,3 persen ADB juga sama dan itu jauh lebih tinggi dari perkiraan pemerintah. Karena ini kan sebenarnya lebih ke arah pertumbuhan tinggi itu seperti base efeknya untuk yang di 2021 sehingga pertumbuhan dari berbagai lembaga itu, tapi kita konservatif yaitu sekitar 4,5 sampai 5,5 persen. Namun jika ditanyakan kapan terjadi atau di kuartal berapa pemulihannya kami kembali lagi melihat bahwa itu bisa didistribusikan vaksin itu bisa mungkin kuartal kedua atau ketiga mulai tumbuh. Tetapi itu masih belum tahu kondisi perkiraannya kalau kita lihat keseluruhan tahunnya adalah 4,5 sampai 5,5 persen.

Stimulus apa yang disiapkan lagi dari pemerintah untuk sekarang atau di 2021?

Jadi untuk yang sekarang pasti sudah sering ya, program PEN Rp695,2 triliun itu ada untuk perlindungan sosial, kemudian insentif usaha korporasi, kemudian untuk pemerintah daerah juga, kesehatan, UMKM dan sebagiannya. Nah ke depan itu tetap kita lakukan. Tapi tidak sebesar yang sekarang. Jadi kalau di dalam APBN 2021 itu sekitar Rp360 triliun untuk program pemulihan. Kemudian juga untuk di rencana kerja pemerintah (RKP) kita 2021 untuk ekonominya difokuskan pada pemulihan investasi kemudian industri dan pariwisata. Itu dari sisi ekonominya. Dan itulah yang kita harapkan bergerak melalui tiga prioritas tersebut.

Kembali ke belakang, jumlah kasus positif di Indonesia semakin tumbuh. Anggaran disiapkan sebesar Rp87 triliun, ada rencana penambahan anggaran?

Sebenarnya begini dengan posisi yang ada sekarang duit kita masih cukup, masih sangat cukup. Apalagi yang tadi saya sampaikan ada yang belum terserap dibeberapa sektor itu bisa direalokasikan sebenarnya untuk ke yang lebih membutuhkan. Jadi misalkan ternyata oh kesehatan dengan kondisi seperti ini penambahan itu akan kita dialokasikan anggaran tersebut. Tapi kita juga jangan berharap bahwa wah ini karena kesehatan tambah banyak, kita berharap moga-moga turun. Tapi justru yang lebih penting bagaimana nantinya kita adalah anggaran itu mereformasi atau mereset kembali sektor-sektor yang kita anggap penting misalkan kesehatan seperti apa.

(Source: merdeka.com)

Leave a Reply