Kisah Pilu Jendral Moersjid

Kisah Pilu Jendral Moersjid

Kisah Pilu Jendral Moersjid; Terasing di akhir kepemimpinan Sukarno, terpental kala Soeharto berkuasa. Si Jago Tempur itu tenggelam dalam narasi sejarah karena intrik politik dan ketidaksukaan sang penguasa. Mayjen Moersjid pulang ke Indonesia setelah dua tahun bertugas sebagai duta besar di Filipina. Moersjid tiba di Jakarta pada Oktober 1969. Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) menggelar upacara penerimaan kembali kedatangan Moersjid. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

Pada akhir bulan November, Letjen TNI Umar Wirahadikusumah menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pagi hari tanggal 8 Desember, Moersjid diminta melapor kepada Umar. Seyogianya Moersjid dan Umar kolega dekat karena sama-sama perwira dari Divisi Siliwangi. Tapi Ketika Moersjid datang menghadap KSAD, Umar menyodorkan secarik kertas. Siapa nyana, isinya bertuliskan surat penahanan.

 “Sid, ini surat penahanan,” kata Umar seperti dituturkan Siddharta Moersjid, putra Moersjid. Isi surat pun dibacakan. Umar kemudian melempar pulpen agar segera dipakai Moersjid untuk tanda tangan. Moersjid melempar balik pulpen tersebut. Akibatnya, tinta berceceran di kemeja Umar. Dengan tenang, Moersjid mengambil pulpennya sendiri dan meneken surat penahanan itu.

Moersjid, Jenderal Pemarah yang Disegani Sukarno

Selama empat tahun Moersjid ditahan tanpa melalui proses pengadilan. Bertahun berselang setelah bebas, Moersjid mengenang kembali kejadian “pulpen terbang” itu kepada seorang wartawan.  “Mungkin Jenderal Umar tidak sengaja atau, bisa saja mendadak pulpennya terlepas dari tangan?” tanya si wartawan.

Jawab Moersjid, “Kami perwira tinggi dalam sebuah upacara resmi. Sengaja atau tidak, dia menghina kehormatan seorang perwira. Langsung pulpennya saya slenthik, untung hanya kena di bajunya,” tulis Julius Pour dalam obituari tentang Moersjid di Kompas, 25 Agustus 2008.

Insiden dengan Marshall Green

Insiden itu terjadi di Manila International Airport. Dalam sebuah jamuan, emosi Moersjid terpantik mendengar ocehan Marshall Green. Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) untuk kawasan Timur Jauh itu mengajukan tanya bernada hinaan tentang keadaan Presiden Sukarno. Moersjid, tentara tulen berpostur besar itu hampir saja menghajar Green. Menurut Moersjid, pertanyaan itu tidak sepatutnya dilontarkan oleh seorang pejabat tinggi.

Pada saat itu, Bung Karno memang gencar diberitakan terjungkal di ujung kekuasaannya. Angkatan Darat yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto mulai mengambil alih kekuasaan. Arsip-arsip Kementerian Luar Negeri AS yang telah dideklasifikasi di kemudian hari membuktikan peranan AS dalam menyokong gerakan anti-Sukarno. Terlepas dari adanya keterlibatan AS, percekcokannya dengan Marshall Green menyebabkan Moersjid dipanggil kembali ke Jakarta.

 “Dua minggu setelah insiden, saya dipanggil pulang. Hanya saya dan Green yang terlibat, kok Jakarta langsung mencopot saya? Jelas, Green lebih dipercaya dan lebih kuasa, ini kan tai kucing namanya,” kata Moersjid dikutip Julius Pour. Sekembalinya dari Manila, Moersjid diinterogasi. Di saat yang sama, bergulir wacana untuk mengadili Sukarno. Kesalahannya pun dicari-cari.

“Ada isu Bung Karno belikan rumah untuk seorang perempuan Filipina. Mungkin Moersjid diperiksa agar memberikan info yang merugikan Bung Karno. Karena tidak mau, ia (Moersjid) ditangkap,” ujar sejarawan Asvi Warman Adam. Moersjid, perwira lapangan yang apolitis itu harus menelan pil pahit. Dari Rumah Tahanan Militer (Budi Utomo), Moersjid kemudian menghabiskan masa tahanannya di RTM Nirbaya. Padahal, kata Asvi, Moersjid bukan orangnya Nasution, Yani, apalagi Soeharto; juga tidak terlalu dekat dengan Sukarno.

Selama Moersjid berada dalam tahanan, sang istri Siti Rachmah mesti berjuang sendiri menghidupi keluarga dengan enam orang anak sambil berjualan roti. Pilu merundung kalbu Siti Rachmah sehingga dia membakar semua atribut Angkatan Darat milik suaminya, lengkap dengan seragam dan sederet tanda jasa. Barangkali untuk menyalurkan rasa kecewa.  Beruntunglah, duka itu tidak larut lebih lama lagi. Pada 1973, Moersjid kembali berkumpul bersama keluarga setelah dibebaskan dari tahanan.

Pertanyaannya: Siapa?

Sepanjang karier militernya, Moersjid merasakan bermacam palagan. Dia mulai angkat senjata sejak era revolusi. Jiwa tempurnya kian terasah kala menumpas pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat kemudian Permesta di Sulawesi Utara. Dalam operasi pembebasan Irian Barat, Moersjid nyaris gugur berkalang samudra dalam insiden Laut Aru.

Pada pertengahan 1962, Moersjid menjadi perwira tinggi mendampingi Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani sebagai Deputi I/Operasi. Setelah itu, Moersjid sempat menjabat wakil menteri pertahanan, lalu duta besar di Filipina hingga kemudian terhempas dalam tahanan rezim Orde Baru. Bintang gemilang Moersjid mendadak pudar paska prahara politik tahun 1965. Jenderal yang dijuluki “si jago tempur” itu harus menepi karena intrik.

Sehari sesudah bebas dari tahanan, terbitlah keputusan bahwa Moersjid dipensiunkan dalam pangkat mayor jenderal pada usia 48 tahun. Usia yang tidak lazim bagi perwira aktif untuk purnabakti. Setelah pensiun, Moersjid menyepi dan hidup seperti orang sipil biasa. Namanya tidak lagi diperhitungkan. Dia bahkan berniat ingin menjadi satpam karena tiada pekerjaan yang pas dilakoninya.   

“Da… Da… Kayaknya Papa jadi satpam paling cocok,” kata Moersjid kepada anaknya Siddharta pada suatu percakapan. “Ada sih yang ajakin dia kerja, tapi bawaannya gitu, ya susah (terlalu tegas),” tutur Sida. Kendati dapat hidup bebas, masih ada konflik batin yang menyisa dalam diri Moersjid. Bagi Moersjid, hanya ada satu pertanyaan yang belum terang terjawab. Siapa yang punya inisiatif menjerumuskan dirinya ke dalam tahanan?

 “Yang menandatangani suratnya memang KSAD. Tapi siapakah yang memerintahkan? Ini misteri yang mungkin tidak akan terjawab,” ujar Siddharta. Dalam obituarinya, Julius Pour menulis tajuk, “Moersjid: Siapa Telah Memfitnah Diriku?”. Atas apa yang terjadi menimpa dirinya, Moersjid selalu berkata “Saya contoh terbaik the right man in the wrong place. (Orang yang benar di tempat yang salah).”

Menurut sesepuh TNI AD Letjen TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo, Soeharto mendapat masukan yang mengatakan bahwa Moersjid seorang perwira Sukarnois. Selain mereka yang dicap “kiri”, di masa peralihan menuju Orde Baru, orang-orang yang dianggap dekat dengan Sukarno juga turut “dibersihkan”. Moersjid dimasukan pada kategori terakhir.

 “Rupanya ada orang-orang di sekitar Presiden Soeharto yang menganggap Pak Moersjid seorang Sukarnois,” kata Sayidiman. Namun, Sayidiman tidak tahu pasti siapa orang yang dimaksud. Indikasi mengarah kepada Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru, Nasution menyebut nama Moersjid sebanyak 12 kali. Pada halaman 180, Nasution mengatakan, “Jenderal Mursid adalah seorang jenderal yang dipercayai oleh Presiden”. Dan pada halaman  306, Nasution menyebut, “Mursid adalah pengaggum Bung Karno.”

Meski demikian, tudingan Moersjid seorang perwira Sukarnois bukan menjadi alasan yang tepat menjerumuskannya ke dalam tahanan. Sebab, kalau benar demikian, tentulah Moersjid yang dipilih Sukarno menggantikan Ahmad Yani sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat. Namun, Sukarno malah mementahkan Moersjid lantaran dianggap “tukang gelut”.

Pertanyaan itu tetap tidak terjawab hingga akhir hayat Moersjid. Sebelum meninggal, Moersjid berpesan kepada keluarganya agar jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebagai pejuang dengan sejumlah tanda jasa, Moersjid sejatinya layak mendapat tempat di sana.

“Saya pikir itu alasan pribadi,” kata Siddharta mengenai keinginan ayahnya yang enggan dimakamkan di Kalibata. Dalam usia 82 tahun, Moersjid wafat pada 13 Agustus 2008. Taman Giritama, Tonjong, Bogor menjadi pusaranya. Prosesi militer mengiringi acara pemakaman sebagai wujud penghormatan terakhir bagi Moersjid.

(Source: Historia.id)

Leave a Reply