Membayangkan Dunia Pasca Vaksinasi

Membayangkan Dunia Pasca Vaksinasi

Membayangkan Dunia Pasca Vaksinasi Covid-19; virus corona telah memporak-porandakan kehidupan kita. Segala hal mulai dari kegiatan kumpul-kumpul sampai kegiatan harian kita betul-betul berubah dan sebagian besar kita tak nyaman dengan perubahan ini. Seluruh dunia tak sabar menanti vaksin Covid-19 demi keamanan diri sendiri dan orang yang kita cintai, dan untuk mengembalikan kehidupan normal kita. Bagaimana kehidupan kita pasca vaksin Covid-19 didistribusikan ke seluruh dunia? Sejumlah pakar memberikan prediksinya. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Washington, Hilary Godwin mengatakan, hal penting yang harus diingat bahwa vaksin tak akan mudah mengubah kembali segala sesuatu menjadi normal ketika semua orang divaksinasi. “Itu perlu waktu,” ujarnya, dikutip dari Huffington Post, September lalu. Satu tahun dari sekarang dan seterusnya, Godwin memperkirakan masih melihat orang-orang memakai masker di tempat umum – khususnya orang yang rentan terpapar Covid-19. “Pemakaian masker akan menjadi normal, sebagaimana di banyak negara Asia dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

Efektivitas Vaksin Dipertanyakan

Kecepatan para ilmuwan dalam mengembangkan vaksin justru memicu kekhawatiran dari banyak profesional kesehatan. “Tingkat pengembangan vaksin tidak seperti yang pernah kami lihat sebelumnya,” jelas Aparna Kumar, perawat-ilmuwan dan asisten profesor di Universitas Thomas Jefferson. “Luar biasa bahwa sains bergerak cepat, tetapi juga menciptakan batasan dalam hal apa yang kami ketahui tentang kemanjuran vaksin.” Dia mendefinisikan kemanjuran vaksin sebagai seberapa baik vaksin bekerja dalam kondisi ideal, seperti dalam uji coba terkontrol secara acak. Kemanjuran menunjukkan seberapa besar vaksin mengurangi frekuensi penyakit pada populasi yang divaksinasi versus populasi yang tidak divaksinasi.

Kumar – yang juga merupakan kepala komunitas di Dear Pandemic, tim peneliti dan dokter perempuan yang bekerja untuk memerangi misinformasi tentang Covid-19 dengan berbagi informasi yang dapat diakses dan akurat di media sosial – mengatakan vaksin mungkin tidak membasmi virus. Dia menyatakan, vaksin masa kanak-kanak bekerja dengan sangat baik, tetapi vaksin lain seperti vaksin flu efektif 40 hingga 60 persen, tergantung pada tahun dan jenis flu.

“Vaksin flu mencegah banyak orang dari sakit parah dan dari penyakit yang beredar di masyarakat ke tingkat yang semestinya, tetapi kita masih tahu bahwa banyak orang akan jatuh sakit,” jelasnya. Dia menambahkan, penemuan seputar keefektifan vaksin sulit untuk didiskusikan sampai vaksin itu disebarkan ke masyarakat, yang berarti para profesional kesehatan tidak dapat memprediksi tingkat efektivitas vaksin Covid-19 sampai diberikan kepada masyarakat umum.

Pengembangan vaksin Covid-19 yang sangat cepat juga menimbulkan kekhawatiran terkait distribusi vaksin yang telah mendapat persetujuan regulator. “Kita akan menghadapi tantangan dalam mendapatkan vaksin yang digunakan terutama karena masalah rantai pasokan,” jelas dokter dan ilmuwan Universitas Duke, Tony Moody. “Bagaimana Anda membuat dosis yang cukup dan mendistribusikannya tepat waktu? Kami dapat melakukan hal-hal yang sangat menyenangkan dengan kapasitas pembuatan vaksin – kami membuat miliaran dosis vaksin influenza setiap tahun – tetapi melakukan itu untuk produk baru dan memiliki kemampuan untuk mendistribusikannya dengan cepat akan menjadi sangat menantang.”

Dia juga mengantisipasi masalah seputar botol kaca dan sumbat yang diperlukan untuk penyimpanan dan distribusi vaksin. Botol kaca dan sumbatnya kebanyakan diproduksi di luar negeri dan tantangannya bisa terkendala dalam proses distribusi atau pengiriman. “Bahkan kalau pun Anda dapat membuat vaksin, dapatkah Anda mendapatkan cukup botol kaca?”

WFH Berlanjut dan Perjalanan Bisnis Berkurang

Dengan peningkatan teknologi digital dan kesadaran bahwa beberapa industri dapat dengan mudah berlanjut tanpa mengirim staf ke seluruh wilayah atau seluruh dunia, Godwin memprediksi perjalanan bisnis akan berkurang di sejumlah industri. “Dugaan saya, mungkin akan ada lebih sedikit perjalanan bisnis. Kami sekarang tidak harus secara fisik berada di ruangan yang sama untuk mencapai banyak hal,” jelasnya.

Dia menambahkan, rutinitas bekerja dari rumah telah mempercepat penerapan teknologi seperti Zoom. Dia memperkirakan perusahaan menjadi lebih fleksibel dengan kebijakan kerja jarak jauh – terutama jika pekerjaan masih bisa diselesaikan di rumah sambil mencegah orang sakit dan membantu perusahaan dengan biaya operasional.

Konser dan Acara Olahraga Masih Dihindari

Moody mengatakan, acara olahraga dan konser tidak akan menjadi bagian dari kebiasaan baru masyarakat. “Akan sulit untuk meyakinkan orang untuk kembali ke pertemuan besar yang hanya bertujuan untuk hiburan atau rekreasi,” ujarnya. Dia menyuarakan keprihatinan tentang kerumunan orang di dalam seni pertunjukan dan tempat olahraga. Dia mempertanyakan bagaimana cara membuat kerumunan orang bisa berada di ruang tertutup dengan aman, hal ini menurutnya membutuhkan biaya besar. Dan karena sirkulasi udara segar membantu mengurangi risiko virus, dia menambahkan bahwa pertemuan sosial di luar ruangan akan menjadi hal yang biasa.

Dampak Psikologi Pasca-pandemi

Masyarakat modern diharapkan akan dibentuk oleh pandemi Covid-19. Edwin Fisher, seorang profesor perilaku kesehatan di Gillings School of Global Public Health di Universitas North Carolina, Chapel Hill, mencatat dampak psikologis setelah bencana biasanya muncul enam bulan setelah berakhir. Dia mengantisipasi efek kesehatan mental jangka panjang dan perubahan masyarakat akibat pandemi, yang telah membuat jutaan orang Amerika terisolasi secara sosial dan fisik selama berbulan-bulan.

“Karena ada di mana-mana, karena menyerang kita 24/7, kita cenderung kehilangan jejak efek Covid pada kehidupan sehari-hari, suasana hati, dan kesadaran kita,” jelas Fisher. “Nah, apa efek yang serupa jika hidup melalui pandemi global terbesar selama lebih dari 100 tahun? Akan ada banyak, banyak efek jangka panjang.” Dia mengkhawatirkan depresi, tingkat bunuh diri, dan masalah perkawinan – hal-hal yang saat ini meningkat pesat karena pandemi.

Virus Tak akan Pernah Hilang; Sistem Kesehatan Lebih Siap Hadapi Pandemi

Kumar menunjukkan sistem kesehatan akan lebih siap menghadapi krisis kesehatan di masa depan atau wabah virus corona di masa depan setelah pandemi. “Kita telah belajar banyak tentang sistem dan struktur kesehatan masyarakat kita sendiri dalam pandemi ini, dan hal-hal itu bisa menjadi lebih baik,” kata Kumar. “Kita lebih siap menghadapi potensi wabah di masa depan. Dengan struktur dan sistem ini, kita dapat mengaktifkannya kembali saat kita membutuhkannya.”

Antisipasi Perselisihan Masyarakat

Banyak orang meyakini segala sesuatu akan kembali normal setelah divaksin. Namun ada beberapa hal yang harus diantisipasi. “Saya pikir ada kemungkinan konflik yang luar biasa, perselisihan sosial dan konsekuensi yang tidak terduga dengan datangnya vaksin,” ujarnya. Komunitas, rekan kerja, teman, dan keluarga akan dihadapkan pada keputusan sulit mengenai segala hal mulai dari topik tentang bagaimana bersosialisasi dengan aman setelah berbulan-bulan dan terisolasi hingga mengirim anak mereka ke sekolah di mana mungkin ada siswa yang tidak divaksinasi. Dia juga menekankan, kemungkinan akan ada masalah mengenai distribusi vaksin.

Virus Tak akan Pernah Hilang

Sayangnya, Covid-19 tidak akan hilang saat vaksin telah didistribusikan. Godwin mencatat bahwa AS memiliki sejarah panjang orang-orang yang menentang vaksin. “Kami sudah melihat orang-orang mengatakan mereka tidak ingin mendapatkan vaksin dan itu membatasi kemampuan kami untuk menciptakan kekebalan kawanan, yang memberikan perlindungan bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan vaksin atau belum mendapatkan vaksin,” jelasnya. Dia mengingatkan virus akan tetap beredar bahkan setelah vaksin yang efektif tersedia secara luas sebagai akibat dari mereka yang memilih untuk tidak mendapatkan vaksin. “Kita akan hidup dengan Covid untuk sementara waktu,” pungkasnya.

(Source: Merdeka.com)

Leave a Reply