Moderna Vs Pfizer

Moderna Vs Pfizer

Moderna Vs Pfizer, Adu Manjur Vaksin Corona; Sama-sama diklaim punya efektivitas di atas 90 persen, vaksin COVID-19 buatan Moderna dan Pfizer memang punya sejumlah kemiripan. Namun Moderna mengklaim vaksin buatannya punya keunggulan. Selain punya efektivitas yang mencapai 94,5 persen, vaksin COVID-19 Moderna juga mirip dengan vaksin Pfizer dalam hal teknologi yang digunakan. Keduanya menggunakan platform mRNA, yakni menggunakan kode genetik virus yang bisa dibuat manusia. Cara kerja vaksin ini adalah dengan melatih sistem imun tubuh untuk memerangi infeksi virus. Teknologi yang menggunakan platform mRNA ini terbilang paling mutakhir, belum pernah digunakan dalam vaksin yang saat ini beredar. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety) dibawah ini;

Apa kelebihan vaksin Moderna dibanding Pfizer?

Dr Tal Zacks, chief medical officer Moderna, mengatakan vaksin ini bisa bertahan selama 6 bulan pada penyimpanan dengan suhu minus 20 derajat Celcius. Bahkan masih bisa bertahan selama 30 hari pada suhu pendingin biasa. “Kami memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada untuk vaksin lain di pasaran,” kata Dr Zacks, dikutip dari CNN, Selasa (17/11/2020). Vaksin lain yang bisa disimpan dengan suhu serupa adalah vaksin cacar air. Sebagai pembanding, vaksin COVID-19 Pfizer disebut membutuhkan penyimpanan pada suhu minus 75 derajat Celcius. Tidak ada vaksin lain di Amerika Serikat yang membutuhkan suhu serendah itu untuk penyimpanan, sehingga masalah distribusi akan menjadi tantangan serius.

Fakta-fakta Vaksin COVID-19 Moderna yang Diklaim 94,5 Persen Efektif

Perusahaan farmasi Amerika Serikat Moderna mengumumkan hasil analisis awal uji klinis vaksin COVID-19 buatannya. Sama seperti Pfizer-BioNTech, Moderna juga mengklaim efektivitas di atas 90 persen. Meski baru analisis awal, hasil ini dinilai cukup menjanjikan karena membuktikan bahwa vaksin COVID-19 jauh lebih efektif dari yang diperkirakan. Beberapa fakta tentang vaksin COVID-19 yang dikembangkan Moderna terangkum sebagai berikut.

Tipe

Seperti halnya yang dikembangkan Pfizer, vaksin COVID-19 Moderna yang disebut mRNA-1273 ini juga berbasis messenger RNA (mRNA). Dikutip dari Reuters, platform ini menggunakan kode genetik virus yang diciptakan manusia dan bisa dibuat dengan lebih cepat dibanding vaksin konvensional.

Uji klinis

Moderna merupakan salah satu yang pertama melakukan uji klinis vaksin COVID-19 pada manusia. Dimulai pada Maret, dan tahap akhir yang melibatkan 30 ribu partisipan dimulai 27 Juli di Amerika Serikat. Hasil analisis awal menunjukkan dari 95 kasus COVID-19 yang ditemukan, hanya 5 kasus yang ditemukan pada kelompok penyuntikan vaksin. Sisanya sebanyak 90 kasus berasal dari kelompok plasebo. Sebanyak 11 kasus dikategorikan severe atau parah.

Efek samping

Efek samping yang ditemukan umumnya ringan-sedang. Namun beberapa partisipan mengalami keluhan parah setelah penyuntikan kedua, termasuk 10 persen yang mengalami fatigue atau kelelahan parah sehingga sulit melakukan aktiviyas sehari-hari. Sebanyak 9 persen mengalami nyeri di badan. “Sebagian besar hanya sementara,” kata Moderna.

Distribusi dan penyimpanan

Dibandingkan vaksin Pfizer yang harus disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius, vaksin COVID-19 Moderna diklaim lebih mudah didistribusikan. Pada suhu pendingin biasa diklaim bisa bertahan selama 30 hari, dan pada suhu minus 20 derahat Celcius bisa bertahan hingga 6 bulan.

Diklaim 90 Persen Efektif, Ini Efek Samping Vaksin COVID-19 Moderna dan Pfizer

Menyusul Pfizer-BioNTech, perusahaan farmasi Moderna juga mengumumkan hasil awal uji klinis vaksin COVID-19 yang dikembangkannya. Efektivitas vaksin tersebut diklaim mencapai 94,5 persen. “Efektivitas keseluruhan luar biasa. Ini hari luar biasa,” kata Tal Zaks, chief medical officer Moderna, dikutip dari BBC News. Sebelumnya, Pfizer-BioNTech juga mengklaim vaksin COVID-19 buatannya memiliki tingkat efektivitas di atas 90 persen. Kedua vaksin tersebut merupakan salah satu dari sejumlah kandidat potensial vaksin COVID-19 yang saat ini masih menjalani uji klinis tahap 3. Meski dinilai efektif, kedua vaksin ini juga memiliki efek samping. Dirangkum detikcom, berikut perbandingan efek samping antara vaksin COVID-19 Moderna dan Pfizer-BioNTech.

Vaksin COVID-19 Moderna

Dari 30 ribu relawan uji coba vaksin COVID-19 Moderna, sebagian di antaranya mengalami efek samping ringan-sedang. Misalnya, mengalami nyeri di area suntikan, kelelahan, nyeri sendi, dan sakit kepala. “Mayoritas efek samping ringan atau sedang dalam tingkat keparahan,” ucap Moderna, dikutip dari Fox News. CEO Moderna Stephane Bancel mengatakan efek samping ini hanya berlangsung sebentar dan bisa pulih sendiri tanpa harus mengonsumsi obat. Artinya, vaksin ini secara umum dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh. “Saya selalu mengingatkan, memiliki sedikit reaksi kekebalan adalah sinyal baik. Sistem kekebalan Anda bekerja karena vaksin sedang diaktifkan,” ujar Bancel. Meski begitu, beberapa partisipan mengaku mengalami keluhan parah setelah penyuntikan kedua, yakni 10 persen mengalami kelelahan hingga sulit melakukan aktivitas sehari-hari dan 9 persen mengeluhkan nyeri badan.

Vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech

Menurut keterangan para relawan yang mendapat suntikan pertama vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech, ada beberapa efek samping yang dirasakan. Di antaranya adalah sakit kepala dan nyeri otot, seperti yang muncul setelah melakukan vaksin flu. Hal ini pun diungkapkan oleh Glenn Deshields (44) dari Austin, Texas, dan Carrie (45) dari Missouri. Mereka berdua adalah relawan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech.

Glenn mengatakan, ia merasa ‘teler yang parah’ seperti mabuk usai disuntik vaksin buatan Pfizer-BioNTech tersebut, namun efeknya tidak berlangsung lama. Sementara Carrie mengeluhkan sakit kepala, nyeri di tubuh, hingga demam setelah mendapat suntikan pertamanya pada bulan September lalu. “Efek sampingnya tampak meningkat setelah dosis kedua bulan lalu,” jelasnya yang dikutip dari Express UK. Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan kesiapan vaksinasi di Indonesia. Menurutnya, saat ini konteks vaksinasi di 34 provinsi sudah sesuai roadmap.

(Source: News.detik.com)

Leave a Reply