Peraturan Terbaru Keluar Masuk Provinsi

Peraturan Terbaru Keluar Masuk Provinsi

Peraturan Terbaru Keluar Masuk Provinsi Berikut Harus Sertakan Surat Rapid Test Antigen; untuk menegakan protokol kesehatan dan bisa memutus mata rantai infeksi virus corona, paling tidak menghambat penyebarannya. Penghujung 2020 ini, beberapa wilayah di Indonesia mulai memperketat protokol kesehatandengan berbagai cara dan upaya. Salah satu cara yang banyak dilakukan saat ini adalah dengan skrining dan razia. Oleh karenanya, saat ini keluar masuk lima wilayah di Indonesia berikut ini harus mengantongi surat sehat atau negatif Covid-19 dari hasi rapid test antigen atau PCR. Rapid test antibodi sudah tidak berlaku dan diterima. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

Dari enam provinsi ini, hanya satu provinsi yang salah satu kotanya beda aturannya. Keluar masuk Bandung tetap bebas dari surat rapid test antigen ataupun PCR. Sebab Bandung hanya menjalankan PSBB Proporsional. Inilah lima daerah di Indonesia yang menerapkan hal tersebut,

1. Bali

Pemerintah memperkuat aturan masuk Bali dengan ketentuan pemeriksaan swab berbasis PCR untuk penumpang udara dan rapid test antigen untuk perjalanan darat. Aturan ini berdasarkan Surat Edaran Nomor 2021 Tahun 2020 tentang Kegiatan Pelaksanaan Masyarakat Selama Libur Natal dan Tahun Baru dalam Tatanan Kehidupan Era Baru di Provinsi Bali. Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN) yang akan memasuki wilayah Bali melalui jalur udara wajib menunjukkan hasil negatif tes PCR. Sedangkan, pelaku perjalanan jalur darat dan laut harus menunjukkan hasil negatif rapid test antigen. Peraturan ini berlaku mulai 18 Desember 2020 hingga 4 Januari 2021.

2. Jawa Tengah

Pendatang yang akan masuk ke Jawa Tengah pada masa libur akhir tahun diwajibkan mengantongi hasil negatif dari rapid test antigen. Rencananya, rapid test antigen juga akan digelar secara acak di sejumlah rest area perbatasan dan tempat wisata di Jateng pada masa libur Natal dan Tahun Baru. “Di Borobudur (Magelang), Prambanan (Klaten), Tawangmangu (Karanganyar), Dusun Semilir (Kabupaten Semarang), Dieng (Wonosobo), dan Baturaden (Banyumas) akan dilakukan screening rapid terhadap wisatawan,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Jateng Satriyo Hidayat, Kamis (17/12/2020).

3. DI Yogyakarta

Melansir Antara, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DI Yogyakarta) Sri Sultan Hamengku Buwono X mewajibkan seluruh pelaku perjalanan yang memasuki wilayahnya mempunyai dokumen rapid antigen atau tes usap (swab) PCR. “Itu peraturan pemerintah ya, bagi mereka yang melaksanakan perjalanan di bulan Desember ini wajib untuk rapid (antigen), untuk swab,” ujar Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (18/12/2020). Menurut Sultan, aturan ini diterapkan karena sudah menjadi kebijakan nasional.

4. Malang

Sekda Prov Jatim Heru Tjahjono bersama Kepala BNPB Doni Monardo saat meninjau RS Lapangan Ijen Boulevard Malang, Kamis (03/12/2020). Pemerintah Kota Malang mewajibkan wisatawan yang berkunjung ke wilayahnya membawa keterangan hasil rapid test antigen. Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, aturan ini akan dimuat dalam surat edaran yang akan diteken olehnya. “Persyaratan harus rapid antigen. Kalau antigen itu kan persentasenya 80 persen mendekati hasilnya swab,” kata dia.

5. DKI Jakarta

Mulai 18 Desember 2020, keluar masuk DKI Jakarta harus menyertakan surat hasil pemeriksaan rapid test antigen. Hal itu sesuai dengan Instruksi Gubernur Nomor 64 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pengendalian Kegiatan Masyarakat dalam Pencegahan Covid-19 di Masa Libur Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta Dinas Perhubungan DKI Jakarta melakukan pengecekan surat keterangan hasil rapid test antigen kepada masyarakat yang melakukan perjalanan keluar-masuk wilayah Jakarta.

6. Jawa Barat

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat juga menerapkan aturan bagi wisatawan yang datang ke obyek wisata di Jawa Barat. Wisatawan wajib menunjukkan hasil rapid test antigen atau PCR yang berlaku 14 hari sejak diterbitkan.

Penularan Virus Corona Sangat Tinggi, Hindari Jalan-jalan di Tempat Sempit

Penularan virus corona (Covid-19) sangat sulit diprediksi. Mereka bisa menular pada siapapun kapan dan dimana saja. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus corona menyebar terutama di antara orang-orang yang berada dalam kontak dekat atau dalam jarak sekitar 6 kaki untuk waktu yang lama. Penyebaran virus corona terjadi ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara, dan tetesan dari mulut atau hidung mereka diluncurkan ke udara dan mendarat di mulut atau hidung orang-orang di dekatnya.

Karenanya masyarakat diimbau untuk selalu menjalankan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) di masa pandemi ini. Terlebih menjelang akhir libur panjang natal dan tahun baru, sebaiknya masyarakat menahan diri untuk tidak bepergian. Pasalnya sebuah studi terbaru mengungkap bahwa penularan virus corona sangat rentan terjadi di luar rumah dan di ruang sempit atau tempat tertutup.

Temuan tersebut diketahui baru saja dimuat dalam jurnal Psychics of Fluids pada Rabu (16/12) kemarin. Dimana para ilmuwan menganalisis penyebaran droplet atau tetesan liur yang dihasilkan dari seseorang yang batuk setelah orang tersebut berjalan di tempat dengan ukuran berbeda. Dengan menggunakan simulasi aliran udara, peneliti menemukan jarak enam kaki atau dua meter belum aman untuk mencegah penularan virus corona dari satu orang kepada orang lain, tergantung pada bentuk ruangan.

Studi tersebut juga menunjukan partikel yang terinfeksi bisa tertinggal dan menempatkan orang ke dalam awan udara yang mengandung droplet. Menurut peneliti, di saat seseorang batuk di koridor atau lorong sempit dan tertutup, udara yang telah terpapar ini bertahan di sana dan terkonsentrasi. Sehingga membahayakan orang lainnya yang berjalan di lorong tersebut.

“Hal ini jadi tantangan besar dalam menentukan jarak aman untuk tempat dengan ukuran tertentu, seperti koridor yang sangat sempit, karena seseorang bisa jadi menghirup tetesan virus meski pasien berada jauh di depannya,” demikian bunyi dari studi tersebut.

Adapun tempat-tempat yang sangat rawan akan penularan virus corona diantaranya seperti lorong sekolah, area keberangkatan di bandara, dalam pesawat dan kereta. Serta koridor di kantor pun disebut bisa menimbulkan risiko lebih tinggi untuk penyebaran Covid-19 ini. “Sedikit perbedaan dalam aliran udara dapat secara signifikan mengubah pola penyebaran virus di udara,” kata co-author studi Xiaolei Yang, PhD, selaku peneliti di Institute of Mechanics di Chinese Academy of Sciences. “Ini berarti kita harus memakai masker meski tidak melihat orang lain di sekitar,” tambahnya.

(Source: health.grid.id)

Leave a Reply