Resesi Ekonomi
Resesi Ekonomi Pertama Sejak 22 Tahun

Resesi Ekonomi

Resesi Ekonomi Pertama Sejak 22 Tahun; tahun 2020 menjadi masa paling sulit bagi perekonomian global. Hampir seluruh negara di dunia masuk ke dalam jurang resesi. Tidak terkecuali Indonesia. Semua sektor ekonomi di Tanah Air terganggu akibat wabah virus corona. Dampaknya pertumbuhan ekonomi terperosok minus dua kuartal berturut-turut. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo mengatakan resesi akibat virus baru tersebut merupakan yang terburuk dalam sejarah sejak Perang Dunia II. “Bank Dunia melansir bahwa resesi sudah hampir pasti terjadi di seluruh wilayah ekonomi dunia. Resesi akibat Covid-19 ini merupakan yang terburuk dalam sejarah sejak Perang Dunia II,” ujarnya.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengakui dampak ekonomi dari virus corona atau Covid-19 lebih kompleks jika dibandingkan krisis 2008-2009 dan 1997-1998. Sebab, tidak ada aktivitas kegiatan ekonomi di dalam negeri dan juga tidak ada yang mengetahui kapan bencana virus ini selesai. “Maka kami sampaikan Covid-19 jauh lebih kompleks bahkan dari krisis 2008-2009 dan 1997-1998 karena kita tahu penyebabnya. Ini (corona) tidak ada jangkar, karena tidak tahu kapan covid berhenti,” ungkapnya. Perlambatan ekonomi menjadi salah satu keniscayaan. Di kuartal I-2020 (Januari-Maret), ekonomi domestik masih tumbuh positif. Meskipun memang telah alami perlambatan dari periode sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sebesar 2,97 persen. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan kuartal I-2019 sebesar 5,07 persen. Juga merosot dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 yakni 4,97 persen. Pertumbuhan tersebut juga menjadi posisi yang terendah sejak 2001. Di mana pada era Gus Dur, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2001 tercatat lebih baik sebesar 3,87 persen.

Pelemahan ekonomi terjadi karena daya beli atau tingkat konsumsi rumah tangga anjlok pada Maret 2020. Padahal tingkat konsumsi rumah tangga punya kontribusi besar terhadap pembentukan ekonomi Tanah Air, dengan kontribusinya sebesar 56 persen. Sementara konsumsi rumah tangga hanya tumbuh di level 2,84 persen dibandingkan kuartal I-2019 yang sebesar 5,02 persen. “Konsumsi drop, itu efek dominonya ke permintaan lain, walaupun itu hanya Maret tapi sangat dalam pengaruhnya,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Pelemahan daya beli terjadi karena masyarakat dikejutkan dengan kehadiran virus corona. Pemerintah pertama kali mengonfirmasi kasus Covid-19 pada Senin 2 Maret 2020. Sejak kejadian itu, masyarakat mulai panik. Penyebaran virus asal China semakin meluas. Pemerintah mengambil kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan tersebut ekonomi Indonesia lumpuh. Hampir seluruh sektor ekonomi tertekan. Mulai dari perdagangan, UMKM, transportasi, hingga pariwisata.

Imbasnya, ekonomi di kuartal II-2020 (April-Juni) terkontraksi dalam. BPS mencatat ekonomi Indonesia minus 5,32 persen secara year on year (yoy). Pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi yang terendah sejak triwulan I-1999 yang pada saat itu mencapai -6,13 persen.

Kontraksi ekonomi terjadi di kuartal II-2020 memberi efek kejut. Di sisi lain pemerintah masih bernafas lega. Karena kontraksi yang dialami masih cukup baik jika dibandingkan negara-negara lain. Berkaca dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, pada kuartal kedua mengalami penurunan ekonomi sebesar minus 9,50 persen, Jerman, Prancis, dan Hong Kong masing-masing terkontraksi minus 11,7 persen, minus 19 persen, dan minus 9 persen.

Negara-negara tetangga Indonesia juga tidak terelakan dari resesi. Misalnya Singapura dan Filipina. Keduanya mencatatkan pertumbuhan minus 12,6 persen dan minus 16,5 persen pada kuartal II-2020. Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 masih minus. Laporan BPS memperlihatkan ekonomi domestik terkontraksi minus 3,49 persen ecara year on year (yoy). Kontraksi ini lebih baik dibandingkan posisi pada kuartal II-2020 yang tercatat minus 5,32 persen.

Dari data tersebut, Peneliti Indef, Bhima Yudhistira memastikan bahwa Indonesia resmi resesi ekonomi. Menurutnya, resesi yang terjadi saat ini sebenarnya hanya hanya mengafirmasi kembali ekonomi sedang berada dalam tekanan yang cukup berat. Hal yang menjadi pertanyaan saat ini apakah resesi ekonomi ini akan masuk dalam tahap depresi. Mengingat resesi ekonomi dapat mengarah pada depresi ekonomi. Kondisi ini akan terjadi jika pertumbuhan PDB masih negatif hingga tahun 2021.

“Yang menjadi pertanyaan besar apakah ekonomi Indonesia akan masuk dalam depresi, yakni resesi ekonomi yang berlanjut dalam satu tahun ke depan?” ungkap dia. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Nathan Kacaribu, mengakui Indonesia telah mengalami resesi yang terjadi terjadi akibat pandemi Covid-19. Perlambatan ekonomi, menurutnya sudah terjadi pada kuartal I-2020, di mana saat itu pertumbuhan ekonomi RI hanya tumbuh 2,97 persen.

“Tentang perlambatan perekonomian kita itu memang sebenarnya kalau kita lihat dari kuartal I pun sudah mulai terjadi,” ujarnya. Padahal, pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir berada di kisaran rata-rata 5 persen setiap tahunnya. Namun akibat pandemi Covid-19, seluruh ekonomi dunia termasuk Indonesia mengalami kontraksi cukup dalam. Pemerintah sadar ketika perekonomian bergerak di bawah tren, maka Indonesia sudah masuk masa resesi. Namun pemerintah belum yakin. Karena masih menunggu kuartal II dan III berikutnya.

“Namun terbukti kuartal II semakin buruk dalam sekali, kuartal ketiga juga masih di bawah tren nah ini sekarang kita sudah yakin bahwa ini adalah yang kita sebut perlambatan atau beberapa teman menyebutnya resesi,” kata dia. Kendati begitu, hal ini bukan merupakan sesuatu persoalan besar terjadi di Indonesia. Sebab, tahun ini hampir tidak ada perekonomian di dunia yang tidak terkontraksi perekonomiannya. Bahkan pertumbuhan ekonominya tidak negatif itu hampir tidak ada, mayoritas negara-negara di seluruh dunia itu pertumbuhan ekonomi justru negatif.

“Indonesia kalau kita lihat nanti dengan apa yang sudah terjadi di kuartal kedua lalu perbaikan di kuartal ketiga harapannya terus nanti menguat di kuartal keempat proyeksi kita untuk 2020 ini kan tidak akan sedalam dibandingkan perekonomian perekonomian yang lain,” kata dia. Pemerintah sudah tidak memikirkan lagi apakah Indonesia mengalami resesi atau tidak resesi. Sebab, di tengah kondisi ketidakpastian ini banyak negara-negara lain yang juga mengalami resesi ekonomi. Bagi pemerintah saat ini adalah bagaimana memperbaiki ekonomi di sisa tahun 2020.

(Source: Merdeka.com)

Leave a Reply