Kandungan Sehat Dalam Kopi

Kandungan Sehat Dalam Kopi

Kandungan Sehat Dalam Kopi; Salah satu minuman yang kini telah menjadi sebuah gaya hidup bagi banyak orang adalah kopi. Terdapat berbagai variasi kopi yang pada saat ini mudah dijumpai di pasaran. Berbagai macam olahan kopi kekinian kini semakin populer di kalangan kaum milenial, mulai dari sekedar campur susu, gula aren, boba hingga cincau. Kopi sendiri merupakan jenis minuman yang sesungguhnya memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan. “Kopi memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, antara lain bisa mengurangi gangguan fungsi otak, risiko diabetes tipe 2, menurunkan risiko kanker, melindungi hati, sampai mencegah depresi,” kata ahli gizi dari Mayapada Hospital Kuningan, Ika Setyani. Berikut yang telah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

Mengutip Fat Secret, dalam secangkir (240 ml) kopi hitam mengandung 2 kalori, lemak 0,05 gram, karbohidrat 0,09, dan protein 0,28 gram, kandungan gula dan serat 0 gram. Namun menimbang berbagai bahan campuran di dalamnya, masih amankah minum kopi kekinian? “Kopi sebenarnya sehat, tapi terkadang bahan campuran di dalamnya yang kerap membuat kopi jadi berkurang khasiatnya, dan mungkin berbahaya,” kata Ika. Berikut ini adalah beberapa aturan untuk membuat konsumsi kopi sehari-hari menjadi lebih sehat.

Kurangi Gula

Salah satu masalah yang kerap muncul ketika minum kopi adalah penambahan gula yang cenderung berlebihan untuk satu cangkir kopi. Anjuran Kementerian Kesehatan, konsumsi gula maksimal adalah 50 miligram atau 4 sendok makan per hari. “Semua makanan yang Anda makan itu juga mengandung gula, dan itu juga masuk dalam hitungan angka kecukupan gizi, jadi gula yang ada di nasi atau karbohidrat lain juga masuk dalam hitungan total 4 sendok makan gula per hari,” kata Ika.

Minum Kopi Setelah Makan

Meski pahit, kopi mengandung asam. Meski tingkat keasaman umumnya berkisar pada pH 5 dan aman dikonsumsi, namun minum kopi ketika perut kosong tidak dianjurkan. “Minum kopi harus setelah makan. Minum kopi sebelum makan bisa meningkatkan kadar asam lambung yang bersifat korosif. Saat belum makan asam lambung akan meningkat, asamnya makin naik kalau ditambah kopi,” jelas Ika. “Kopi itu mengandung kafein tinggi dan sifatnya diuretik (mengeluarkan cairan tubuh) yang ditandai dengan sering buang air kecil,” katanya. Selain itu, minum kopi terus-menerus, apalagi tidak diimbangi dengan minum air putih yang banyak akan menyebabkan dehidrasi. Sebuah studi menyebutkan bahwa asupan maksimal kafein per hari adalah 400 mg. “Ingat juga bahwa kafein itu bukan cuma ada di kopi, tapi juga ada di teh, cokelat, minuman energi, sampai minuman soda. Itu juga harus dihitung sebagai caffein intakes per hari,” terangnya.

Jangan Tambahkan Krimer

Krimer memang bakal membuat rasa kopi jadi lebih creamy, tapi ingatlah kalau krimer juga mengandung lemak yang tinggi. “Krimer itu ‘isinya’ lemak. Jadi ketika banyak pakai krimer di kopi, lemaknya semakin banyak juga yang masuk ke tubuh,” jelasnya. Dalam 1 sendok teh kopi krimer bubuk mengandung 11 kalori dengan kandungan lemak 0,71 gram. Sementara kebutuhan lemak lima sendok makan (67 gram) per hari. “Ini total per hari ya, sedangkan biasanya orang pakai krimer rata-rata lebih dari satu sendok teh, dan makanan mereka sudah tinggi lemak, jadi hati-hati lah,” jelas Ika. Agar kopi lebih sehat, krimer bisa diganti dengan bahan lain. Agar tetap lezat dan sehat, ganti krimer dengan susu non-fat, susu low-fat, susu kedelai, atau susu almond.

Menenangkan Diri Jadi Cara Penting Cegah Stres saat WFH

Kondisi bekerja dari rumah atau work from home (WFH) merupakan kondisi yang bisa menimbulkan stres pada diri seseorang. Hal ini juga terjadi ketika seseoran sudah menjadi orangtua dan memiliki anak. Kewajiban menjalankan tugas sebagai pekerja sekaligus memenuhi kebutuhan anak yang juga banyak beraktivitas di rumah bisa menjadi situasi yang tak mudah. Maka dari itu, menurut psikolog klinis Tara de Thouars, penting bagi orangtua untuk belajar menenangkan diri ketika ia terjebak dalam saat-saat yang berat tersebut. “Pada saat kita sedang berada dalam situasi yang sangat stresfull, sebetulnya kita itu punya segala informasi yang kita butuhkan untuk bisa membuat kita menghadapi dengan lebih baik,” kata Tara dalam sebuah seminar daring beberapa waktu lalu.

Tara mengatakan, otak seseorang sesungguhnya memiliki “learning brain” yang mampu membantu merespon suatu masalah dengan lebih baik. Namun, Tara mengungkapkan bahwa seringkali “learning brain” tersebut tak bisa berproses karena sudah terhalangi oleh perasaan takut yang tinggi serta pikiran-pikiran negatif yang mendistorsi.

Menenangkan Diri

Maka dari itu, apa yang dilakukan agar otak pembelajaran ini tidak terhalang? “Yang perlu kita lakukan adalah kita harus grounding dan mindful terlebih dahulu,” kata Tara. “Jadi kalau orang bilang sederhananya, sudah rileks saja, santai dulu, tarik napas, tenangkan diri dulu,” ujar psikolog yang berpraktik di klinik Lighthouse ini Tara menjelaskan, menenangkan diri sangat penting karena jika ini tidak dilakukan, “survival brain” seseorang akan terus aktif sehingga tidak bisa memberikan “learning brain” berproses untuk menghadirkan solusi yang lebih baik. “Grounding ini maksudnya adalah kita sejenak berfokus pada napas, memfungsikan indra, lebih merasakan situasi seperti ‘sekarang saya lagi mengajarkan anak, bukan mengerjakan pekerjaan, jadi coba fokus dulu mendampingi anak.'”

Pentingnya Mengenyahkan Pikiran

Tara mengatakan, untuk sesaat, enyahkan pikiran-pikiran buruk yang selalu muncul untuk kemudian kembali ke situasi yang sedang dilakukan sekarang. “Biarkan deh apapun yang terjadi, ya itu hanya pikiran lho tanpa kita harus selalu bereaksi. Kalau semua pikiran kita harus selalu kita reaksikan menjadi fight, flight, atau freeze, yang ada keseharian kita jadi kacau balau.” Menurut Tara, grounding dan mindful bertujuan untuk memberikan jeda terhadap pikiran-pikiran yang berantakan di dalam otak. Ini juga membantu kita untuk lebih menyadari emosi yang sesungguhnya dialami. “Jadi sekadar mengamati, kemudian biarkan itu terjadi hingga kita merasa lebih baik sendiri dan setelah kita lebih baik dengan sendirinya, baru ‘learning brain’ akan bisa berproses,” tandasnya

(Source: merdeka.com)

Leave a Reply