Sejarah Seragam Militer

Sejarah Seragam Militer

Sejarah Seragam Militer TNI; Pada 5 Oktober 2018 diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (HUT TNI) yang ke-73. Awal dibentuk bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) kemudian berganti nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Setelah itu, berganti nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Saat ini TNI terdiri dari tiga angkatan bersenjata, TNI Angkatan Darat (AD), TNI Angkatan Laut (AL), dan TNI Angkatan Udara (AU). Pakaian seragam salah satu ciri dari identitas tentara. Semasa TKR, seragam yang dikenakan memiliki kekhasan tersendiri. Selain baju dan celana, terdapat selempang dan sabuk kulit. Untuk menjaga keamanan, mereka juga memiliki pelindung kepala berupa topi baja. Seiring perkembangan, seragam loreng dengan motif Loreng Macan Tutul sempat dikenakan anggota TNI saat itu. Pakaian ini cukup terkenal sebagai ciri khas prajurit Baret Merah yang ternyata seragam loreng TNI itu mempunyai tujuan khusus. Motif loreng berguna untuk melakukan penyamaran atau kamuflase sehingga keberadaan anggota TNI tidak bisa terdeteksi musuh. Hal itu termasuk ke dalam teknik ‘survival’ atau bertahan hidup. Bahkan untuk perlengkapan pun ikut diwarnai motif loreng agar bisa ‘menyatu’ dengan seragam saat perang.

Sebelumnya, tak hanya untuk keperluan di medan perang, manusia telah memiliki kesadaran kamuflase untuk hal-hal lainnya. Mengutip Caitlin Hu dalam artikelnya ‘The Art and Science of Military Camouflage‘, pemburu asli Amerika mengenakan kulit kerbau untuk mendekati mangsa mereka. Sementara pemburu Irlandia menutupi diri mereka dengan potongan-potongan sikat dan ranting untuk menyatu dengan pepohonan. Pada masa Julius Caesar, kapal-kapal disamarkan dengan lilin biru laut, dan selama Perang Sipil AS mereka dicat kabut abu-abu. Dengan cara pikir yang sama, seragam tentara pun dirancang agar dapat melakukan kamuflase.

(Sejarah Seragam Loreng Militer)

Itu dilakukan sebagai teknik bertahan agar mereka tak terdeteksi oleh lawan atau musuh. Dengan memakai seragam ini, pasukan tentu terlihat menyatu dengan medannya sehingga mengurangi tingkat risiko terkena sasaran tembak dalam pertempuran. Meski pada umumnya Anda melihat kombinasi abstrak antara warna hijau, coklat, dan hitam, tidak semua negara memiliki warna yang sama. Warna-warna dari motif loreng itu pun disesuaikan dengan medan di masing-masing wilayah negara. Menurut laporan dari sebuah tes yang dilakukan oleh Angkatan Darat AS, dibutuhkan rata-rata 30 detik bagi manusia untuk mengidentifikasi objek yang berkamuflase atau disamarkan.

Indonesia sendiri memilih pola M81 Woodland, yang sudah populer dari tahun 1981. Sementara tentara di Timur Tengah yang memilih motif loreng kombinasi warna coklat muda. Pada tahun 2009, Vectorworldmap.com membuat sebuah peta yang menampilkan setiap negara yang tercakup dalam pola kamuflase yang sama dengan angkatan bersenjatanya. Peta itu juga memberi gambaran tentang jenis-jenis lingkungan di mana negara-negara berbeda berharap untuk berperang. Negara-negara gurun seperti Mesir dan Arab Saudi memakai baju cokelat dan abu-abu. Sementara negara-negara hutan sub-Sahara yang subur memiliki warna hijau tua. Pasukan tentara dunia mulai mengadopsi kamuflase pada abad ke-19, sementara AS mulai mengikutinya pada awal 20.

(Sejarah Seragam Loreng Militer)

Sebagaimana diwartakan pada Business Insider, Julian Farrance, dari National Army Museum di London, mengatakan bahwa penerapan kamuflase itu didorong oleh pengembangan amunisi tanpa asap.Yang membuat tentara akan lebih mudah untuk terlihat dan terekspos dibandingkan dengan senjata api sebelumnya. Pada saat yang sama, kemampuan menembak tanpa membuka lokasi seseorang membuatnya lebih mungkin bagi tentara untuk bersembunyi di medan perang. Memang kamuflase ini hanyalah pertahanan dari penglihatan visual. Karena teknologi infra merah yang lebih baru tentu saja dapat mendeteksi manusia dari panas tubuhnya. Namun pada parade militer 3 September 2015, China meluncurkan skema camo maritim yang mengejutkan. Camo biru pixelated dipilih untuk seragam, kendaraan lapis baja dan baterai rudal, serta kendaraan amfibi yang yang tidak membutuhkan warna biru begitu naik ke darat. Mungkin orang China memilih warna itu untuk menandai pergeseran retoris dalam fokus angkatan bersenjata mereka ke kekuatan angkatan laut.

Merujuk kepada sejarah seragam tentara sebelum masa Perang Dunia I, para tentara tidak terlalu mempedulikan soal kamuflase. Mereka beranggapan dengan memakai seragam militer berwarna mencolok dapat menakuti musuh. Namun pada tahun 1800-an, muncul-lah tren memakai seragam loreng di kalangan tentara. Pada motif loreng seragam TNI terdiri dari tiga warna, yaitu hijau, hitam, dan cokelat. Masing-masing dari warna itu mewakili kondisi di Indonesia yang dipenuhi pepohonan, tanah, dan kayu.

(Sejarah Seragam Loreng Militer)

Tentara Indonesia kemudian membuat sendiri pakaian seragam khusus bagi prajurit Baret Merah yang berbeda dari negara asalnya, Amerika Serikat. Seragam ini kemudian dikenal dengan sebutan Loreng Darah Mengalir. Secara resmi pakaian loreng ini diperkenalkan kepada publik untuk pertama kali pada acara parade dan defile pasukan di lapangan parkir Senayan dalam Hari Ulang Tahun Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober 1964. Setelah motif Loreng Darah Mengalir, muncul seragam Infanteri Gaya Baru atau dikenal dengan sebutan Ifgaba. Setelah itu, mulai muncul seragam TNI dengan motif berbeda.

Sebelum nama TNI populer saat ini, dulunya prajurit tentara lebih akrab disebut ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Lalu tahu kah kamu kenapa ABRI Berubah Nama Jadi TNI? Ternyata ada sejarahnya dan alasan dalam perubahan nama ini. Pada masa Demokrasi Terpimpin hingga masa Orde Baru, TNI pernah digabungkan dengan POLRI dan disebut ABRI. Sejak bergulirnya reformasi pemerintahan 1998, terjadi banyak perubahan yang cukup besar. Ditandai dengan jatuhnya pemerintahan orde baru yang kemudian digantikan oleh pemerintahan reformasi di bawah pimpinan presiden B.J Habibie di tengah maraknya berbagai tuntutan masyarakat dalam penuntasan reformasi.

Lalu, muncul pada tuntutan agar Polri dipisahkan dari ABRI dengan harapan Polri menjadi lembaga yang professional dan mandiri, jauh dari intervensi pihak lain dalam penegakan hukum. Sejak 5 Oktober 1998, muncul perdebatan di sekitar presiden yang menginginkan pemisahan Polri dan ABRI. Sementara dalam tubuh Polri sendiri sudah banyak bermunculan aspirasi-aspirasi yang serupa. Isyarat tersebut kemudian direalisasikan oleh Presiden B.J Habibie melalui instruksi Presiden No.2 tahun 1999 yang menyatakan bahwa Polri dipisahkan dari ABRI. Upacara pemisahan Polri dari ABRI dilakukan pada tanggal 1 april 1999 di lapangan upacara Mabes ABRI di Cilangkap, Jakarta Timur. Upacara pemisahan tersebut ditandai dengan penyerahan Panji Tribata Polri dari kepala staff umum ABRI Letjen TNI Sugiono kepada Sekjen Dephankam Letjen TNI Fachrul Razi kemudian diberikan kepada kapolri Jenderal Pol (purn) Roesmanhadi. Maka sejak tanggal 1 April, Polri ditempatkan di bawah Dephankam. Setahun kemudian, keluarlah TAP MPR No. VI/2000, kemandirian Polri berada di bawah Presiden secara langsung dan segera melakukan reformasi birokrasi menuju Polisi yang mandiri, bermanfaat dan professional.

Seragam merupakan bagian terpenting dari suatu pekerjaan terutama pada tentara. Biasanya seragam dengan motif loreng khas tentara yang dilengkapi dengan baret. Pilihan warnanya disesuaikan dengan paduan hijau, hitam, dan coklat tua. Pada bagian bahu, disematkan bintang pertanda jabatan mereka. Dipadu dengan sepatu hitam akan menambah gagah penampilan mereka. Ditambah dengan senjata yang menggantung di bagian pinggang mereka. Jika TNI AD mengenakan seragam hijau kecoklatan, TNI AU memakai seragam berwarna biru loreng. Sementara itu, seragam TNI Angkatan Laut juga dibedakan menjadi Pakaian Dinas Harian (PDH) Upacara, PDH Penerbang, PDH Penerbang SAR, PDH Pomal (Polisi Militer Angkatan Laut), PDH Layar, PDH Olahraga dan Pakaian Dinas Hamil tersebut merupakan seragam resmi anggota Korps Wanita TNI AL (Kowal).

(Source: Liputan6.com)

Leave a Reply