Siaga Bencana saat Pandemi

Siaga Bencana saat Pandemi

Siaga Bencana saat Pandemi; Indonesia masih dilanda pandemi Covid-19. Sejak pertama kali diumumkan Maret lalu, jumlah kasus positif terus bertambah. Sampai Rabu 21 Oktober kemarin, tercatat 373.109 kasus positif Covid-19. Sedangkan angka kesembuhan mencapai 373.109 kasus, dan kematian 12.857 orang. Hingga kini, baik pemerintah pusat dan daerah terus berupaya menekan angka penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan menyediakan vaksin. Di tengah kerja keras menghadapi Covid-19, pemerintah juga mulai bersiap diri menyambut peralihan cuaca di akhir tahun. Di mana curah hujan akan lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Berikut yang sudah dirangkum oleh Tim Support Priority Indonesia (Perusahaan Sepatu Kulit Militer POLRI Safety Tunggang) dibawah ini;

Kondisi ini semakin menjadi perhatian serius karena menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bersamaan dengan terjadinya fenomena La Nina. La Nina merupakan peristiwa di mana terjadi penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur, yang menyebabkan peningkatan kecepatan angin pasat timur yang bertiup di sepanjang samudera pasifik. Menurut Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Supari, hal yang perlu diwaspadai dari fenomena La Nina adalah terjadinya anomali cuaca yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.

“La Nina akan berdampak pada anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi,” kata Supari. La Nina, katanya, dapat memicu frekuensi dan curah hujan yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang dan tanah longsor semakin tinggi. “La Nina membuat curah hujan akan naik. Bahkan sampai bulan April 2021. Potensi bencana yang ditimbulkan harus diwaspadai oleh masyarakat,” imbau Supri.

Terpisah, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan diprediksi puncak La Nina akan terjadi di bulan Desember. Artinya, bertepatan dengan musim penghujan di akhir tahun. “Jadi kesimpulannya mulai Oktober-November 2020 seluruh wilayah Indonesia perlu diwaspadai. Bagaimana Desember? La Nina itu semakin menguat,” kata Dwikorita. Prediksi BMKG, sambung Dwikorita, 27,5 persen wilayah Indonesia yang akan mengalami hujan di luar kewajaran. Beberapa wilayah akan mengalami hal tersebut yaitu Sumatera Utara, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Aceh, Sulawesi dan Jawa Barat. “Prioritas Jawa, tergantung bulannya. Untuk Oktober- November terutama Jawa hingga nusa tenggara, Sulawesi terutama bagian Selatan, tengah juga Kalimantan Tengah, Kepulauan Maluku, Papua bagian barat, termasuk Maluku utara. Kemudian di bulan Desember itu terlihat di sini terutama wilayah Indonesia, ” jelas dia.

Kondisi ini tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Curah hujan tinggi sangat berpotensi menimbulkan banjir. Jika itu terjadi, maka warga akan mengungsi dan hal itu sebenarnya bukan pilihan yang tepat di tengah pandemi belum berakhir. Itu sebabnya, Presiden Joko Widodo mengumpulkan sejumlah menterinya untuk melakukan antisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi akibat anomali cuaca ditambah fenomena La Nina. “Saya ingin agar kita semuanya menyiapkan diri mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi dan juga dampak dari La Nina ini terhadap produksi pertanian agar betul-betul dihitung terhadap sektor perikanan dan juga sektor Perhubungan. Karena 20-40% bukan kenaikan yang kecil,” kata Jokowi dalam rapat terbatas melalui siaran telekonference terkait Antisipasi Bencana Hidrometeorologi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (13/10).

Jokowi juga meminta perkembangan cuaca selalu disampaikan kepada seluruh provinsi dan daerah. Sehingga pemerintah daerah juga mengantisipasi peningkatan curah hujan tersebut. “Saya juga minta supaya disampaikan disebarluaskan informasi mengenai perkembangan cuaca secepat-cepatnya ke seluruh provinsi dan daerah sehingga tahu semuanya sebetulnya curah hujan bulanan ke depan ini akan terjadi kenaikan seperti apa,” ungkap Jokowi. Kepada jajaran di kabinetnya, Jokowi juga meminta Kementerian Sosial mulai mempersiapkan segala yang dibutuhkan seperti tenda pengungsian dan bantuan logistik.

“Sehingga instruksi Presiden kepada Kemensos adalah, pada saat darurat bencana atau bencana datang, bantuan-bantuan kebutuhan dasar yang dibutuhkan masyarakat terdampak bencana bisa segera didistribusikan,” kata Mensos, Juliari Batubara, usai rapat bersama Jokowi. “Kita ingin memastikan pada saat bencana datang, masyarakat yang terdampak bencana akan mendapatkan bantuan,” sambung dia. Karena bertepatan situasi pandemi, konsep pengaturan pengungsi agak berbeda dari biasanya. Jumlah dalam satu tenda akan dibatasi sehingga meminimalisir adanya paparan Covid-19. Tidak hanya itu, pihaknya juga akan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk melakukan tes PCR mencegah penyebaran

“Kami pasti akan kurangi, dan kemudian seluruh pengungsi kami akan berikan masker dan alat proteksi diri, sehingga tidak terjadi klaster, kami juga akan bekerja sama dengan kemenkes yaitu dengan testing dan tracing dengan kemenkes,” ungkap Juliari. Jokowi juga berpesan karena curah diprediksi hujan akan tinggi, di waktu-waktu ini tidak ada pengalihan fungsi lahan. “Tadi bapak Presiden mengingatkan tentang pentingnya masalah lahan. Tidak boleh ada alih fungsi lahan,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo. Andai kata sudah terjadi, sambung Doni, Jokowi minta segera tanami dengan tanaman yang memiliki kemampuan mengikat partikel tanah sangat kuat.

Jokowi juga mengingatkan soal penambangan liar atau illegal mining untuk mengantisipasi dampak La Nina. “Presiden juga mengingatkan tentang illegal mining sebagaimana yang terjadi pada awal tahun 2020 ini di daerah Banten,” jelasnya. BNPB juga mendorong adanya perekrutan relawan sejak dini untuk menghadapi dampak dari fenomena La Nina di Indonesia. Baik di tingkat Kabupaten/ Kota maupun Provinsi. Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan, mengatakan para relawan akan sangat diperlukan, mengingat dampak yang akan ditimbulkan dari fenomena La Nina dianggap bisa lebih buruk dari bencana hidrometeorologi lainnya.

“BNPB telah meminta pihak BPBD kabupaten dan kota untuk melakukan beberapa langkah strategi (menghadapi La Nina). Salah satunya dengan menghimpun dukungan SDM (Sumber Daya Manusia). Khususnya sukarelawan dan dukungan lainnya,” kata Lilik saat diskusi virtual yang diadakan oleh BNPB. Demikian juga kesiapsiagaan di tingkat provinsi, Lilik meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat provinsi untuk melakukan rapat koordinasi menghadapi La Nina.

(Source: Merdeka.com)

Leave a Reply